LAURA & MARSHA: Perjalanan Emosional Saudari Sejiwa

Posted: May 25, 2013 in Resensi Film/TV
Tags: , , , ,

Amst Red Light

JANGAN remehkan apabila dua orang wanita bepergian bersama untuk berpetualang. Terbiasa untuk lebih menggunakan perasaan membuat wanita bisa sangat nekad dan melakukan hal-hal diluar kebiasaan mereka. Konflik batin serta emosi bisa mengundang banyak kejadian seru selama dalam perjalanan. Begitu pula halnya dengan Laura dan Marsha. Dua sahabat soul-sister ini memutuskan untuk melakukan perjalan ke Eropa bersama-sama. Lalu, apa istimewanya plot cerita seperti ini? kalau anda pernah menonton film Thelma & Louise (1991), pasti paham dengan bagaimana mereka berdua lari dari situasi yang membelenggu mereka dan harus bertahan hidup dalam kejaran. Atau mungkin yang lebih sederhana, ingat video klip Crazy milik Aerosmith? Seru bukan, melihat ‘kenakalan’ Liv Tyler dan Alicia Silverstone yang kabur dari sekolah dan berkendara dengan mobil?

Soul-sister, atau kalau boleh saya terjemahkan secara bebas menjadi saudari-sejiwa, adalah semacam hubungan teramat dekat antara dua orang sahabat, sehingga masing-masing sangat mengerti apa yang temannya rasakan dan inginkan tanpa harus mengatakannya. Hubungan antara Laura dan Marsha juga bisa dikatakan demikian. Keduanya diceritakan bersahabat sejak SMA. Laura (Prisia Nasution) yang kini bekerja di sebuah kantor biro perjalanan, telah memiliki seorang anak perempuan berumur enam tahun. Berbeda dengan Laura, Marsha (Adinia Wirasti) memilih hidup sebagai petualang. Dengan pengalamannya, Marsha membuat beberapa buku tentang perjalanan ke luar negeri. Beberapa kali Marsha membujuk Laura agar mau menemaninya pergi jalan-jalan ke Eropa, namun Laura selalu menolak.

Setelah mengalami kecelakaan hingga koma sampai beberapa lama, Laura tersadar. Dia seperti tak ingin hilang kesempatan untuk mencicipi perjalanan bersama sahabatnya. Kemudian Laura menyetujui rencana Marsha mengunjungi beberapa negara di Eropa, asal semua terjadwal seperti yang direncanakannya. Dari sini mulailah berbagai konflik meletup. Laura yang sangat teroganisir, kaku, dan ‘gak nyantai’, berbenturan sifat dengan Marsha yang berkarakter cuek dan acapkali mengabaikan daftar rencana yang dibuat oleh Laura. Laura meradang ketika Marsha kehabisan uang dan membiarkan seorang pria asing bernama Finn menumpang dalam mobil mereka. Puncaknya, mereka bertengkar hebat dan berpisah jalan setelah kehilangan barang dan uang mereka di kota kecil. Belakangan diketahui, Laura ternyata memiliki misi sendiri ke Eropa yang dia sembunyikan dari sahabatnya. Lalu, apakah Laura akhirnya berani menghadapi kenyataan yang mengejutkan di tempat tujuan akhir setelah mereka berdua kembali bersama? Well, anda harus setia menonton hingga film ini selesai untuk mencari tahu jawabannya.

Menonton film ini saya merasa ditampar. Karakter Laura (mungkin golongan darahnya A sama seperti saya) seperti diri saya sendiri yang sangat teroganisir. Bayangkan, betapa lelahnya Laura bila tak ada penyeimbang jiwa seperti Marsha dalam hidupnya. Syukurlah, film ini tak terjebak menjadi film yang ‘jualan’ pemandangan walaupun syuting di beberapa negara Eropa yang terkenal dengan pariwisatanya. Panorama indah sukses ditaruh hanya sebagai latar cerita. Tak bisa saya bayangkan apabila Prisia dan Adinia tidak didapuk sebagai pemeran utama film ini. Dibutuhkan karakter kuat, akting mumpuni, serta dialog yang dilontarkan secara natural sehingga mampu mengaduk emosi penonton tanpa menjadi bosan melihat duo ini hampir sepanjang durasi. Namun tetap ada beberapa hal yang saya bisa kritisi. Penggambaran tokoh suami Laura dalam beberapa adegan kilas balik menurut saya pesannya akan bisa lebih tersampaikan bila disajikan berbeda dengan scene normal. Kilas balik hubungan Laura dan suaminya di masa lalu yang pergi begitu saja, kurang memancing penasaran penonton. Alih-alih hal ini malah dijelaskan dengan sendirinya oleh Laura dalam sebuah dialog dengan Marsha. Hal lainnya, beberapa scene yang menjadi alasan Laura mengiyakan ajakan Marsha disajikan terlalu cepat dan datar. Mungkin sutradara enggan mendramatisir hal ini dan memilih untuk berfokus pada perjalanan mereka di Eropa.

Verona Bukit2

Pada akhirnya, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, apalagi dengan bantuan sahabat. Film ini cocok untuk ditonton bersama sahabat dekat anda, dan setelah film usai, mungkin anda berdua akan saling bertatapan sambil tersenyum, seolah telah menemukan kembali alasan mengapa anda berdua menjalin persahabatan.

@windddo

Laura & Marsha | 2013 | Produksi: Inno Maleo Films | Produser: Leni Lolang | Penulis: Titien Wattimena | Sutradara: Dinna Jasanti | Pemain: Prisia Nasution, Adinia Wirasti | Durasi: – menit

Poster film Laura & Marsha

Poster film Laura & Marsha

Comments
  1. idenyaandii says:

    wah bang mungkin laura zodiacnya juga taurus. hihihi

  2. Hmm sprtnya menarik juga film ini, mmg sudah saatnya Indonesia memproduksi film bermutu ketimbang bergenre horor murahan seperti suster ngesot, kuntilanak dll.. Beberapa minggu yang lalu Indonesia berpartisipasi di festival film pendek di MAdrid Spain.. Berdasarkan informasi yang disampaikan ibu duta besar saat memberikan kata sambutan bahwa film ini ( Judulnya: Payung Merah) menjuarai berbagai macam festival bergengsi di Asia, apa2 sj aku lupa. Itu selera asia toh? yg msh suka dgn cerita yg berbau mistis murahan…. Kalau selera org spanyol mah berbeda dan sudah tentu film tsb tdk menang…miris*…. Heeeey pa kbr?

    • gerbongtiga says:

      Kuntilanak sama pocong udah minim diproduksi bu… tapi bukan berarti yang lain lebih berkualitas juga. Secara kualitas yah… jauh lebih baik, film selain horor kayak gitu mulai diapresiasi. Kabar baik bu.. hehehe.. kapan balik ke Indonesia?

  3. Waduh jgn panggil ibu dong, kepala 4 masih 3 thn lg loh hehehehe jd blom cocok dipanggil ibu kan?? Ke Indonesia bln Agst thn lalu dan bln Feb thn ini.. sdh bolak balik.. kmrn kepikiran mau hubungi kamu tapi takut mengganggu jdnya di cancel deh. Ikut bahagia kalau kamu sehat selalu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s