POM POKO: Perlawanan Anjing Rakun Kepada Manusia

Posted: February 16, 2013 in Resensi Film/TV
Tags:

pompoko_scene_01immDIKISAHKAN, hewan Tanuki, atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Anjing Rakun, hidup dengan damai di hutan-hutan pegunungan di Jepang. Mereka menjalani hidup dengan ceria, berkembang biak, dan mencari makan dengan tenang. Tumbuhnya perekonomian Jepang mulai tahun 60-an membuat negara itu mulai memperluas lahan untuk pemukiman dan industri. Celakanya, karena ekspansi lahan besar-besaran dan keterbatasan lahan, perbukitan tempat para Tanuki hidup pun harus rela ditebangi pepohonannya serta diratakan tanahnya. Akibatnya, lahan yang makin sempit membuat habitat karnivora mirip Rakun itu semakin terhimpit dan saling berkelahi untuk memperebutkan makanan. Dua kelompok utama Tanuki pimpinan Seizaemon dan Gonta saling berkelahi. Untunglah, para tetua berhasil meyakinkan mereka untuk menghentikan permusuhan dan bersatu untuk menghadapi persaingan dengan manusia.

Dalam film Pom Poko, atau Heisei Tanuki Gassen Ponpoko, judul asli film buatan tahun 1994 ini, para Tanuki digambarkan dalam tiga rupa: wujud asli hewan saat bertemu manusia, berpakaian saat bersama sesama Tanuki, dan kartun simpel saat mereka bertingkah-polah. Salah satu tetua mereka bernama Tsurugame. Dia menghendaki semua Tanuki yang tersisa belajar kembali ilmu mengubah diri. Menurut legenda di Jepang, sama halnya dengan Rubah, Tanuki juga bisa mengubah dirinya menjadi bermacam-macam bentuk. Dengan bantuan Nenek Oroku, semua generasi muda Tanuki belajar kembali cara untuk berkamulflase menjadi benda ataupun mahluk lain, termasuk mengubah bentuk menjadi manusia. Lucunya, tak semua Tanuki muda berbakat untuk melakukan ilmu mengubah-wujud ini. Saya tergelak menonton para murid yang gagal mengubah dirinya, atau kelelahan sehingga harus dibantu dan diungsikan para tetua saat menyamar menjadi manusia. salah satu Tanuki berbakat bernama Shoukichi. Selain mudah sekali menyamar, dia juga gemar mengamati perilaku manusia. Berbeda dengan Gonta, pimpinan Tanuki yang agresif, dia tak sabar ingin melawan manusia sehingga melakukan tindakan gegabah dengan cara mencelakakan para pekerja konstruksi hingga tewas dengan ilmu sihirnya. Shoukichi sebaliknya, dia menawarkan solusi yang lebih lunak tanpa harus membunuh manusia.

Tak semua Tanuki bisa mengubah diri

Tak semua Tanuki bisa mengubah diri

Shoukichi mencoba menakut-nakuti manusia dengan menyamar menjadi hantu. Mereka menakut-nakuti pekerja konstruksi dengan menjadi bermacam jenis hantu hingga mengubah diri menjadi utusan Dewa yang tak ingin kuil dan hutannya dirobohkan. Puncaknya, dibantu sesepuh Tanuki yang berusia ratusan tahun, mereka membuat parade hantu untuk mengusir manusia dari tempat tinggalnya. Sayang, usaha mereka sia-sia saat pemimpin perusahaan konstruksi mengklaim bahwa dirinyalah yang membuat parade itu sebagai sarana promosi wahana hiburan. Hal itu membuat kelompok Tanuki terguncang dan terpecah. Gonta melakukan usaha lebih keras melawan manusia hingga berjatuhan korban dipihaknya. Sisanya, mengais makanan sisa-sisa manusia mencoba bertahan hidup dengan resiko tertangkap, atau tewas tertabrak mobil. Akankah para Tanuki ini menyerah? lalu, apakah tawaran seekor Rubah untuk mengikuti jejaknya tinggal sebagai manusia di kota akan mereka terima? lalu, bagaimana nasib Tanuki yang tak bisa mengubah diri?

PESAN CINTA LINGKUNGAN

Studio Ghibli terkenal dengan film-film animasinya yang sarat dengan pesan moral. Dengan cerdas, pesan moral itu dituturkan dalam dialog yang mudah dipahami oleh segala umur. Sebut saja film My Neighbor Totoro karya Hayao Miyazaki. Pesan untuk menjaga hutan dan pohon-pohon tua disampaikan dengan cara menggambarkan bahwa ada mahluk lucu (Totoro) dan suka menolong yang tinggal di dalam pohon. Pom Poko dengan narasinya juga menjelaskan bahwa lingkungan mereka yang semakin terdesak membuat mereka harus kehilangan tempat tinggal saat bersaing dengan manusia. Tentu saja narasi ini diperjelas dengan penggambaran animasi yang tak terlalu berat dan mudah dipahami.

Bedanya, film garapan sutradara Isao Takahata ini cenderung lebih “sadis” dalam menggambarkan kelakuan para Tanuki. Namun hal ini bisa dimaklumi, karena walau bagaimanapun mereka dapat mengubah wujud menjadi manusia, hewan tetaplah hewan. Beberapa adegan menunjukkan bahwa kemampuan para Tanuki melebarkan testikelnya menunjukkan seberapa hebat mereka. Animasinya pun tak semenggemaskan mahluk-mahluk kreasi Miyazaki dalam Totoro dan Spirited Away. Namun film ini masih sangat layak tonton. Jika anda penasaran dengan sepak terjang para Tanuki melawan manusia, film ini cocok menemani akhir pekan anda di rumah.

@windddo

Poster film Pom Poko

Poster film Pom Poko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s