FRANKENWEENIE: Belajar Mengikhlaskan Kematian

Posted: October 28, 2012 in Resensi Film/TV
Tags: , ,

SEBAGAI catatan, entah sudah berapa film karya Tim Burton yang sudah saya tonton. Burton adalah salah satu sutradara favorit saya untuk urusan eksekusi sebuah film dengan nuansa gotik dan kelam. Bahkan, Alice in Wonderland yang penuh warna pun menjadi film  gelap di tangan Burton. Frankenweenie adalah film kedua karya Tim Burton yang saya tonton di tahun 2012 ini. Selain itu, ini adalah film animasi stop-motion setelah The Nightmare Before Christmast (1993) dan Corpse Bride (2005) yang mengambil setting masyarakat keturunan Belanda setelah filmnya yang berjudul Sleepy Hollow (1999).

Entah mengapa Tim Burton memiliki ketertarikan dengan masyarakat keturunan imigran asal Belanda ini (Dutch). Yang pasti, fil ini mengisahkan Victor Frankenstein (Charlie Tahan), bocah SD penyendiri yang tinggal di New Holland dengan ikon kota sebuah kincir angin raksasa di atas bukit. Victor yang tak punya sahabat, hanya ditemani anjingnya yang bernama Sparky. Victor sangat tertarik dengan pelajaran sains di kelasnya. Dia kagum dengan Mr. Rzykruski (Martin Landau), guru sains nya yang walau berwajah angker, namun cara mengajarnya menyenangkan.

Suatu hari, Sparky tewas karena kecelakaan. Hal ini membuat Victor yang menganggap anjingnya sebagai satu-satunya teman menjadi sangat terpukul. Terinsipirasi oleh pelajaran dari Mr. Rzykurski mengenai listrik yang bisa menghidupkan hewan yang sudah mati, Victor bereksperimen sendiri agar Sparky dapat hidup kembali. Ajaib! Sparky pun kembali hidup. Victor yang awalnya menyembunyikan hal ini pada teman-temannya, terpaksa menghadapi masalah. Teman sekelasnya yang bernama Edgar ‘E’ Gore menyebarkan berita bahwa Victor berhasil menghidupkan kembali anjingnya. Kontan saja, hal ini membuat teman-temannya yang lain menjadi iri. Tak ingin kalah dari Victor, mereka masing-masing mencoba membangkitkan bermacam hewan. Tanpa mereka sadari, hewan-hewan yang mereka jadikan percobaan mengancam perayaan festival Belanda yang diadakan di kota tersebut.

Setelah film Dark Shadow yang kurang greget, Burton seolah agak tanggung dalam menggarap film yang berdasarkan kreasinya sendiri di tahun 1984 ini. Mungkin karena rating yang diperuntukkan bagi penonton segala umur, dan batasan dari Walt Disney Pictures, kesan gotik dan angker tak terlalu terasa dalam film ini. Karakter tipikal Tim Burton, seperti biasa menampilkan tokoh berbadan sangat kurus dan mata yang besar. Beberapa adegan cukup menghibur walau tak membuat saya terbahak-bahak. Cara Victor berusaha menerima kematian sahabat yang dicintai, serta dukungan orangtuanya, mampu membuat saya terharu. Tapi saya sedikit kecewa dengan bagian akhir film, karena seperti menonton sebuah repetisi dari Sleepy Hollow saat klimaks adegan di sebuah kincir angin yang terbakar. Walau tak menyajikan pesan moral yang sangat gamblang, bolehlah mengajak anak-anak menonton film Frankenweenie ini sebagai tontonan meghibur di akhir pekan.

Frankenweenie (2012) | Walt Disney Pictures | Sutradara: Tim Burton | Pengisi Suara: Charlie Tahan, Catherine O’Hara, Winona Ryder, Martin Short, Martin Landau | Durasi: 87 Menit

@windddo

Comments
  1. idenyaandi says:

    filmnya hitam putih ya, disangka berwarna ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s