Industri Hiburan Terlalu Berpihak Pada Orang Berkulit Putih?

Posted: October 20, 2012 in Nyinyir, Resensi Film/TV
Tags: , ,

KETIKA anda menyaksikan film-film dan serial Hollywood, sering sekali ditemukan stereotype pada etnis-etnis tertentu. Contohnya, mereka sering menggambarkan orang-orang latin sebagai warga kelas dua. Kalau tidak berperan sebagai asisten rumah tangga, ya sebagai pengedar obat bius. Lucunya lagi, film-film Hollywood juga kerap menambahkan kesan bahwa mereka adalah imigran yang bahasa Inggrisnya pas-pasan, atau bahkan tak bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Anehnya, stereotype tersebut hampir tidak kita lihat pada telenovela-telenovela sukses asal Amerika Latin. Orang-orang hispanik yang kita lihat malah aktor dan aktis yang berakting dengan rupa kaukasia atau kebule-bulean. Memang, ada pula aktor dan aktris latin yang memilik rambut dan kulit yang lebih gelap, tetapi lagi-lagi, mereka biasanya mendapatkan peran pendukung sebagai pekerja, bahkan orang miskin. Stasiun televisi Univision dan Telemundo, sebagai dua stasiun terbesar berbahasa Spanyol di Amerika Serikat, pernah diprotes karena sering menayangkan telenovela asal Amerika Tengah dan Selatan, namun tak menggambarkan realita sesungguhnya bahwa mayoritas penduduk mereka bukanlah berasal dari etnis kaukasia yang berkulit putih, melainkan campuran antara pendatang dan penduduk pribumi. Masyarakat latin Amerika menuduh, telah terjadi etnosentrisme pada acara-acara hiburan di televisi.

Etnosentrisme

Etnosentrisme mungkin istilah yang masih asing di teling kita. Istilah ini merujuk pada terpusatnya, atau terlalu mengutamakan orang-orang dengan ras atau etnis tertentu. Dan ‘penyakit’ ini juga menggejala di dunia hiburan di berbagai penjuru dunia. Etnosentrisme bukannya tidak memiliki latar belakang. Utamanya di Amerika Tengah dan Selatan, hal ini sudah muncul sejak jaman kolonialisasi oleh Bangsa Spanyol.

Kate Del Castillo, Gabriela Spanic, Edith Gonzalez, Thalia, dan Sonya Smith

Sebagai informasi, negara-negara berbahasa Spanyol di Amerika seringkali mengidentifikasikan ras dan etnis mereka dan membaginya dalam beberapa golongan utama. Penggolongan ras dan etnis ini berujung pada pengkastaan dan rasialisme pada warganya. Peninsulares, sebutan ini merujuk pada orang-orang beretnis kaukasia yang lahir di Semenanjung Iberia, tempat negara Spanyol dan Portugis berada. Kemudian ada Criollos, yang berarti orang-orang beretnis kaukasia atau Eropa yang lahir di tanah jajahan. Adapun Mestizo atau Mullato dan Indigenous adalah etnis campuran antara kaukasia dengan Indian atau kulit hitam. Kelompok etnis ini menjadi mayoritas penduduk di Amerika Tengah. Orang-orang berkulit putih, yang berasal dari Eropa, biasanya memilik tanah yang luas dan kekayaan yang melimpah akibat penjajahan mereka.

 
Pengkastaan masyarakat ini kemudian berimbas pada industri hiburan termasuk telenovela. Mereka yang berkulit terang, berambut pirang, dan bermata biru digambarkan memiliki kelas sosial tinggi, kaya, dan berpendidikan, walau yang berambut pirang biasanya mendapat peran sebagai tokoh antagonis. Sedangkan etnis Mestizo sering digambarkan sebagai kelas menengah, pembantu, atau pekerja biasa. Hal inilah yang mengundang kritik warga latin di AS. Pihak Univision dan Telemundo berkilah, hal ini bukanlah kemauan mereka. Mereka hanya menayangkan telenovela yang diproduksi oleh negara-negara Amerika Latin. Padahal, di AS sendiri, negara yang masih sangat rasialis hingga sekarang, sangat sulit bagi masyarakat imigran atau keturunan latin (mestizo) untuk meningkatkan taraf hidup dan pekerjaan akibat stigma yang melekat di masyarakatnya.

 

Preferensi Bagi Artis Berkulit Terang

 

Begitu masifnya propaganda yang dilakukan industri hiburan di AS, yang seolah mengatakan bahwa kecantikan adalah orang-orang yang memiliki kulit yang lebih putih ataupun lebih terang. Gambaran ini diperparah bahkan untuk artis-artis berkulit hitam. Sebut saja, Beyonce, Queen Latifah, dan Halle Berry yang memiliki kulit coklat keemasan yang lebih terang dari kebanyakan wanita kulit hitam. Produsen kosmetik berbondong-bondong menggunakan nama-nama tersebut untuk mewakili produk kecantikan mereka. Sudah bukan rahasia lagi, sulit bagi orang ‘berkulit warna’ menembus dunia entertainment akibat diskriminasi ras tersebut. Istilahnya, semakin terang kulitmu, semakin mudah jalanmu menjadi seorang artis.

 

Artis hispanik (kalau tidak mau disebut latin), yang eksis di dunia showbiz AS pun rata-rata banyak yang berkulit putih dan berwajah eropa. Nama-nama seperti Cameron Diaz, Emilio Estevez, Charlie Sheen, Jennifer Lopez dan Chirstina Aguillera yang notabene namanya keturunan hispanik, nyatanya tampak seperti etnis kaukasia lainnya. Begitu pun di Amerika Latin, artis telenovela ternama seperti Kate del Castillo, Gabriela Spanic, Thalia, Angelica Rivera, Sonya Smith dan Edith Gonzalez yang sangat ‘bule’ itu terkadang harus bersusah payah menyesuaikan diri sebagai tokoh protagonis miskin dari etnis mestizo dengan mengecat rambut mereka lebih gelap, misalnya, walau jelas-jelas tak bisa menyembunyikan identitas asli mereka sebagai criollos.

Bollywood dan Korea Selatan

 

Berbanding terbalik dengan AS dan Amerika Latin, di India, industri film Bollywood terkenal kurang ramah dengan artis-artis pendatang baru yang lahir sebagai blasteran India dan Eropa. Walaupun preferensi di India pun lebih mengutamakan mereka yang terlahir sebagai keturunan ras Arya, yang lebih terang kulitnya, selain nepotisme keluarga yang secara turun-temurun generasinya menguasai perfilman Bollywood. Mereka yang terlahir sebagai blasteran, harus benar-benar berjuang dan memiliki ‘it factor’ yang membuat mereka dilirik oleh produser film.


Korea Selatan pun demikian, sebut saja Daniel Henney. Aktor blasteran Korea – Kanada ini dalam sebuah wawancara mengakui, sulit baginya mendapat peran utama dalam drama televisi karena faktor blasterannya itu. Kebanyakan, artis blasteran hanya mendapat peran pendukung seperti tokoh Dr. Henry Kim yang diperankan Daniel dalam drama My Lovely Sam Soon. Industri hiburan Korea Selatan masih mengutamakan warga lokal mereka sendiri untuk diorbitkan sebagai bintang.

Preferensi di Indonesia

Sebenarnya agak sulit menentukan apakah industri hiburan Tanah Air memilik preferensi terhadap artis-artis dari etnis tertentu. Sudah banyak pelaku industri hiburan yang hijrah dari berbagai provinsi di Indonesia yang mencoba peruntungan di ranah hiburan dan kemudian sukses. Ada kalanya film-film Indonesia bertabur bintang ternama yang berwajah Indonesia. Seperti di tahun 70-an dan 80-an, tak banyak artis-artis blasteran Indonesia-eropa yang berkiprah di perfilman tanah air. Mulai era 90-an, nama-nama artis seperti Ira Wibowo, Ari Wibowo, Adjie Massaid, Gladys Suwandhi, Meriam Bellina, Lydia Kandou yang terlahir dari pasangan orangtua Indonesia-Eropa mulai meramaikan dunia hiburan. Sampai-sampai muncul stigma bahwa jika kamu terlahir indo atau blasteran, mudah sekali menjadi artis.

Tahun 2000-an, seiring dengan bermunculannya pendatang baru, artis berwajah bule dan pribumi seolah tak saling mendominasi. Selera masyarakat Indonesia rupanya tak terpengaruh oleh kondisi apakah si artis merupakan blasteran, ataukah pribumi. Tetapi tentu saja, walau demikian tetap muncul anggapan bahwa artis haruslah berkulit putih sebagai representasi kecantikan atau ketampanan. Hal ini sedikit bergeser saat booming drama Taiwan, Meteor Garden. Walaupun film Mandarin dengan bintang etnis Tionghoa bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, namun hal yang tadinya ekklusif menjadi lebih bisa diterima oleh masyarakat yang tergila-gila pada tokoh-tokoh F4. Bintang sinetron dan film Indonesia yang notabene keturunan Tionghoa seakan mendapatkan momen terbaik mereka untuk eksis di jagad hiburan. Roger Danuarta, Agnes Monica, Olga Lydia, Sandra Dewi dan yang paling gres, Joe Taslim adalah nama-nama yang dikenal oleh masyarakat. Sesuatu yang di masa Orde Baru lalu membuat artis-artis keturunan Tiongoa tak mau membicarakan asal-usul mereka.

Hingga saat ini, baik artis pribumi maupun blasteran, keduanya sama-sama bersinar dan tidak terpengaruh oleh keturunan mereka. Nama-nama seperti Ririn Dwi Aryani, Dian Sastrowardoyo, Laudya Cinthya Bella, Bunga Citra Lestari berkiprah dan sukses beriringan artis blasteran seperti Luna Maya, Julie Estelle, Rianti Cartwright, Dewi Sandra, dan lain-lain.

Hal ini sedikit berbeda dengan Industri Sinetron. Saat booming Sinetron dengan produser keturunan India, nama-nama yang terkenal saat itu adalah mereka yang memilik wajah khas timur tengah dan persia. Jeremy Thomas, Jihan Fahira, Primus Yustisio, Deswita Maharani, Vira Yuniar, pernah mencicipi rasanya menjadi raja dan ratu sinetron prime-time saat itu. Sekarang, hampir seluruh slot jam tayang utama sinetron di Indonesia yang sukses secara rating membuat artis-artisnya yang kebanyakan blasteran menjadi terkenal. Cinta Laura, Asmirandah, Yasmin Leeds Wildblood, Nikita Willy, bergantian menjadi Princess Sinetron di era sekarang, walaupun, kecuali Cinta Laura, artis-artis tersebut sangat menonjolkan akesentuasi asli Indonesia dan nyaris membuang sisi ‘bule’ mereka setiap tampil di sinetron. Tapi ini tetap tidak bisa menghentikan para produser untuk menggeneralisasi dan menempatkan artis berwajah indo ini sebagai orang berpunya, sementara mereka yang berwajah lokal digambarkan sebagai pembantu maupun orang miskin. Syukurlah, belakangan ini sinetron tak melulu bertutur ala Cinderella. Beberapa sinetron sudah menggebrak dengan tema lokal yang lebih membumi.

Nikita Willy, Cinta Laura, Asmirandah, Yasmin L Wildblood

Produsen kosmetik di Indonesia rupanya lebih pintar. Mereka yang menjual produk pemutih kulit untuk menggaet para calon konsumen yang terkena anggapan bahwa cantik itu harus berkulit putih, jarang sekali menggunakan artis yang merupakan blasteran. Sesekali memang pernah, contohnya Rianti Cartwright dengan iklan Pond’s dan Dewi Sandra yang mewakili produk Vaseline. Namun hal itu tak bertahan lama. Menjual produk pemutih dengan bintang iklan yang memang ‘dari sananya’ berkulit putih, akan menjadi semacam bumerang. Itulah sebabnya, merek seperti Garnier lebih memilih Laudya Cinthya Bella, Saffa Tasya Kamila, dan Pasha ‘Ungu’ sebagai model mereka. Toh, bila melihat iklan produk pemutih dengan model ‘bule’ orang-orang mungkin akan berpikir, ‘Ya, iyalah putih… orang blasteran gitu kok…”

 

@windddo – dari berbagai sumber.

Comments
  1. randi oktora says:

    Tuan_ tuan cesting tolong bantu sya soal nya sya pengen btl jd artis , seperti artis yg bisa dikenal banyak orang diindonesia ini, kenapa sya pengen btl jd artis , soal nya sya pengen bahagia kan orang tua sya , dan sya pengen naik kan orang tua sya haji. Itu lh sebab nya sya mau jd artis., ini no hp sya 081372196827 klu tuan produser perlu sya itu no hp sya.

  2. de says:

    emang artis doang yg bisa bahagiain orang tua. kerja yang rajin. atur keuangan. jangan pengen gampang dan express. hoki orang beda2 jalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s