Ketika Metro TV Menuai Kritik (Inilah Alasan Mengapa Kita Harus Berhenti Menonton Televisi)

Posted: September 15, 2012 in Nyinyir
Tags: ,

KALAU dalam pepatah, apa yang sudah diucapkan oleh mulut, maka tak akan bisa ditarik lagi, mungkin hal itu sedang dialami oleh stasiun TV nasional Metro TV beberapa hari belakangan ini. Gara-gara pemberitaaan mengenai proses perekrutran teroris melalui kegiatan ekstrakurikuler Masjid di sekolah-sekolah tanggal 5 September 2012, kontan membuat banyak orang yang dulunya aktif di ROHIS sekolah mengeluarkan protes.Ramai-ramai mereka menuntut Metro TV mengklarifikasi dan meminta maaf melalui jejaring sosial. Bahkan muncul laman facebook menggalang dukungan untuk menuntut permintaan maaf dari Metro TV.

Belakangan Metro TV mengklarifikasi melalui pernyataannya di media online bahwa mereka tidak pernah menyebutkan secara langsung bahwa ROHIS adalah salah satu tempat perekrutan teroris, melainkan kegiatan ekstrakurikuler sekolah (baca di sini). Metro TV pun meminta maaf apabila ada kesalahpahaman penafsiran dari informasi yang mereka buat. Tapi hal ini urung membuat tenang masyarakat yang memprotes. Mereka menuduh Metro TV berkelit dan menyalahkan nara sumber yang ada. Puluhan komentar memenuhi artikel tersebut. Umumnya mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler Masjid sekolah tak lain dan tak bukan adalah rohis. “Memangnya apa selain ROHIS? Cheerleader? Paskibra?” komentar seorang pembaca. Komentar lain mengatakan, hal seperti ini seperti sengaja dibuat agar orang tua dan wali murid menjadi phobia terhadap Islam dan menjauhkan anak-anaknya dari kegiatan kerohanian yang jelas-jelas lebih bermanfaat menurunkan kenakalan siswa.

Entah mengapa, saya sendiri sekarang sudah membatasi diri menonton berita di TV. Mungkin bukan hanya saya saja yang merasakan berita di TV semakin tak berimbang. Mereka cenderung menyudutkan pihak tertentu serta menggiring opini publik melalui narasi cetek macam infotaiment laknat yang tiap hari tak putus-putus mengisi slot acara televisi. Apalagi sekarang beberapa pimpinan media massa terang-terangan terjun ke dunia politik dan mengusung partai tertentu. Hal ini tentu berimbas pada kepentingan mereka untuk menaikkan pamor partai yang mereka usung, dan mungkin juga menggunakan media dan pemberitaan untuk memukul telak lawan-lawan politiknya. Nah, berikut ini kesimpulan saya sendiri mengapa saya harus berhenti menonton berita di televisi:

1. Narasi terlalu lebay. Bahkan ada stasiun televisi yang membacakan berita nyaris seperti pembawa acara Insert Investigasi. Sok-sok misterius dengan kalimat berlebihan. Ingin rasanya melempar tokek belang ke muka pembaca beritanya.

2. Cenderung mendiskreditkan lawan politiknya. Oh, si bapak A sekarang gabung di Partai Air Comberan. Maka seluruh staf redaksi pemberitaannya dikerahkan untuk mencari-cari berita kesalahan sekecil apapun dari lawan-lawan politiknya di Partai Septik Tank. Kemudian beritanya diblow-up, agar penonton tahu betapa menjijikkannya kader-kader Partai Septik Tank itu.

3. Berusaha menggiring opini publik. Tahu kan kalau acara infotaiment terkutuk itu paling hobi menggiring opini penonton buat membenci si artis A, atau mendukung si artis B? mau klarifikasi apapun, narasinya tetap saja dibuat semena-mena supaya penonton berfikir dan beropini seperti yang mereka inginkan. Belakangan berita di stasiun-stasiun TV yang menjadi corong politik pimpinannya itu pun bersikap demikian. Menggiring opini publik bahwa seseorang itu seburuk-buruknya mahluk terutama ya.. itu tadi, lawan politiknya si babeh sebagai pimpinan media.

Tapi tentu saja, bukan berarti kita harus cuek dan bersikap apatis seolah-olah tak mau tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini. Banyak yang bisa kita lakukan apabila kita menemukan sesuatu yang sekiranya tidak berkenan bagi masyarakat. Salah satunya mengadukan tayangan yang mengganggu kita ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Mengutip ucapan Azimah Subagijo, salah satu anggota KPI di twitternya, bahwa publik berhak protes, beri apresiasi terhadap semua isi siaran tv dan radio. KPI ada untuk wakili kepentingan masyarakat dalam penyiaran. Karena lembaga penyiaran (radio dan televisi) “PINJAM” ranah publik yang bernama frekuensi, Maka mereka harus amanah dalam penggunaanya.

@windddo

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s