HI5TERIA: Lima Mimpi Buruk Manusia

Posted: May 15, 2012 in Resensi Film/TV

Karena mata dan otak saya ini sudah benar-benar tertanam kuat film horor asal Thailand, 4bia dan Phobia 2, maka ketika saya melihat poster film Hi5teria, saya langsung tergoda menonton dan membandingkan film ini dengan ‘saudara’ mereka Phobia 2 (Ha Prang) (2009). Keduanya sama-sama mengusung tema beberapa film pendek horor penuh teror  yang terkumpul dalam satu film. Dengan nama Upi Avianto sebagai produser yang mengumpulkan beberapa sutradara muda untuk menyuguhkan karya horor terbaik mereka, saya berani berharap film horor ini tidak akan seperti film horor yang belakangan menyerbu layar bioskop Tanah Air: asal jadi, dibumbui komedi garing, atau adegan vulgar. Membahas film Hi5teria, tidak bisa dinilai secara satu kesatuan. Film yang berisikan film pendek atau disebut film omnibus ini terdiri dari lima cerita berbeda dengan teror yang berbeda pula.

Film dibuka dengan cerita Pasar Setan. Disutradarai oleh Adriyanto Dewo. Berkisah tentang Sari (Tara Basro) yang terpisah dari Jaka, kekasihnya, saat mendaki di Gunung Lawu. Konon ada legenda yang diketahui banyak pendaki, apabila seorang pendaki tersesat dan masuk ke pasar gaib, maka selamanya dia akan terjebak dan tak akan pernah ditemukan. Judulnya memang Pasar Setan, tetapi menurut saya sutradara yang mungkin ingin membuat Pasar Setan semisterius mungkin, malah gagal menyampaikan pesan kepada penonton yang ingin melihat eksekusi kengerian yang disebut-sebut sebagai pasar yang menjebak pendaki hingga hilang. Tara Basro cukup menampilkan wajah depresi orang yang terjebak di suatu tempat. Sedangkan Dion Wiyoko, yang berperan sebagai Zul, seorang pendaki yang bertemu dengan Sari, bermain datar. Repetisi tempat yang disyut berulang-ulang kurang disiasati sehingga membuat saya agak bosan. Untunglah score musik dan adegan akhir cukup membuat saya merasa ngeri dan merinding.

Cerita kedua menyuguhkan kemistisan wayang kulit. Nicole (Maya Otos), seorang jurnalis yang meliput pagelaran wayang kulit dengan dalang seorang wanita misterius. Penasaran dengan salah satu pesinden yang seperti menyimpan rahasia (diperankan sangat mubazir oleh Sigi Wimala), Nicole malah terseret ke dalam kengerian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Lupakan Maya Otos sebagai komedian (bukan nama asli, kebalikan dari Soto Ayam). Kali ini dia mampu berperan sebagai jurnalis asing yang diteror kengerian dan hal mistis khas Indonesia. Bisa dibilang, Wajang Koelit, karya sutradara Chairun Nisa ini adalah salah satu cerita terkuat dari rangkaian lima film.

Apa jadinya jika wanita secantik Farah (Luna Maya) menyangkal adanya hantu? Ketika dia sedang mengamati penampakan di sebuah rumah kosong bersama mahasiswanya yang bernama Teddy (Krishatta), Farah mengambil sebuah kotak musik tua dan tanpa ia sadari, hantu anak kecil ikut bersamanya. Kotak Musik yang disutradarai oleh Billy Christian, sanggup mengembalikan Luna berakting di film horor. Saya masih suka aktingnya saat Luna Maya ketakutan diteror oleh suster ngesot di film Bangsal 13. Tapi terus terang, agak membosankan melihat si hantu berusaha meyakinkan Farah bahwa memang ada mahluk gaib yang keberadaannya tidak bisa dijelaskan oleh sesuatu yang ilmiah. Lagipula, saya merasa si hantu bukannya menakutkan malah terkesan menyebalkan.

Ibu-ibu yang sedang hamil menurut mitos, sangat rentan diganggu oleh mahluk gaib. Di Sumatera Barat ada legenda Palasik. Mahluk jejadian yang memangsa bayi atau janin yang sedang dikandung oleh ibu hamil. Imelda Therinne berperan sebagai seorang ibu muda yang sedang hamil. Ketika dia dibawa oleh suami dan anak tirinya berlibur di sebuah villa, dia mulai diteror oleh penampakan mahluk kepala tanpa tubuh yang melayang-layang. Nicho Yudifar mencoba menyuguhkan karya berjudul sama dengan mahluk jejadian tersebut dengan ritme yang agak terburu-buru seperti saat menjelaskan bagaimana seseorang menjalani ritual menjadi Palasik untuk tujuan kekayaan. Seandainya lebih banyak durasi, dengan memotong adegan Imelda yang sedang mandi misalnya, pastilah ada cerita ataupun teror yang lebih banyak ditampilkan.

Sebagai kisah pamungkas, Loket menyuguhkan misteri dan cerita yang minim dialog. Penonton diharapkan mengerti cerita dari gerak-gerik dan ekspresi wajah seorang gadis penjaga pintu parkir (Ichi Nuraini) yang diteror oleh hantu perempuan yang marah kepadanya (Bella Esperance Lee). Tapi sampai menit terakhir sutradara Harvan Agustriansyah kesulitan memberikan petunjuk kepada penonton hingga akhirnya inti cerita dijelaskan secara kilas balik. Akting Ichi lumayan mengundang simpati saya. Bayangkan! untuk pekerjaan dengan penghasilan pas-pasan, di ruang sempit, dan di dalam gedung parkir yang mungkin bersirkulasi udara buruk, masih juga diteror oleh hantu.

Yeah, film ini pantas untuk diapresiasi sebagai usaha untuk mengembalikan film horor ke ‘jalan yang benar’. Semoga makin banyak sineas film yang dapat membuat film-film horor berkualitas dan bisa membanggakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s