Saat Papa Terpilih Menjadi Ketua RW

Posted: February 19, 2012 in Lain-lain, Uncategorized

Suatu sore Papa berkata kepada saya, “Win, Papa dicalonin jadi ketua RW”. Hah? Tidak salah? Tanya saya dalam hati. Ternyata memang demikian. Cerita Mama sih, kabarnya belasan ketua RT mendatangi rumah Papa saya suatu sore. Mereka beramai-ramai ingin mengusung Papa menjadi calon ketua RW periode empat tahun ke depan. Menurut saya ini agak aneh. Papa yang memang cukup dikenal di masyarakat paling enggan mencalonkan diri sebagai perangkat desa, termasuk menjadi ketua RT. Makanya saya agak bingung, bagaimana mungkin Papa yang seumur-umur belum pernah menjabat ketua RT sekalipun, malah dicalonkan sebagai ketua RW? Awalnya Papa tidak berminat dan mengajukan syarat yang sepertinya tak akan mereka penuhi. Ternyata syarat yang diajukan Papa disetujui oleh para pendukungnya: “Tapi gue gak mau keluar duit sepeser pun, ya?!” kata Papa.

Kalau urusan mengeluarkan duit sebagai pelicin, Papa sejak dulu memang sangat anti. Seingatku, dulu Papa pernah bilang, kalau saya sampai tidak naik kelas ataupun tidak lulus, beliau tak akan mau mengeluarkan uang satu rupiahpun untuk menyogok pihak sekolah agar menganulir keputusan mereka. Begitu pula saat anak-anaknya lulus dan mencari pekerjaan. Haram bagi Papa untuk mengeluarkan uang untuk memuluskan langkah anak-anaknya memasuki dunia karir. Ketika saya bekerja di sebuah bank saat pertama kali bekerja, Papa meradang saat seseorang menuduh beliau membayar uang sepuluh juta agar aku bisa diterima kerja. “Lebih baik saya beli home theater, daripada buat nyogok orang!” sahut Papa saat itu. Selain anti suap, Papa juga anti KKN. Berulang kali saat saya merengek supaya dibantu untuk bisa masuk bekerja di perusahaan tempat Papa bekerja, surat lamaran saya akan ‘dimentahkan’ sebelum sampai ke HRD. Namun Papa selalu membantu siapapun yang dianggapnya anak baik, mau dan mampu bekerja keras, agar dapat masuk dan dipekerjakan di tempat beliau bekerja. Tak terhitung jumlah anak muda yang dibantu oleh Papa supaya mendapatkan pekerjaan. “Mudah-mudahan niat baik Papa nolong orang dibalas dengan kemudahan anak-anak Papa dapat kerja yang bagus juga…” kata Papa. Itulah sebabnya, beliau juga anti menerima ‘uang terima kasih’ ketika orangtua dari anak yang Papa bantu, hendak memberikan uang setelah anaknya diterima bekerja atas bantuan Papa. Mama dan Papa akan sibuk menolak pemberian mereka. “Mudah-mudahan dibalas Allah dengan cara lain… bukan dengan begini…” tolak Papa halus. Itulah sekilas cerita tentang Papa saya.

Balik lagi ke soal pencalonan ketua RW, usut punya usut rupanya banyak ketua RT yang sudah ‘gerah’ dengan ketua RW yang sudah menjabat selama 8 tahun itu dan ingin agar dia turun dari jabatannya. Akan tetapi, memilih salah satu dari mereka sendiri untuk maju sebagai ketua RW akan menjadi sangat tidak adil bagi yang lain. Itulah sebabnya mereka mencari calon independen, non partisan partai manapun seperti Papa (beliau tak pernah terang-terangan mendukung salah satu partai politik) untuk diajukan sebagai pesaing ketua RW lama saat pemilihan.  Toh, kontribusi Papa terhadap warga sudah terbukti. Banyak dari kenalan mereka atau anak mereka sendiri pernah dibantu Papa untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan hanya itu, Papa juga berhasil memaksa agar dana perawatan dan perbaikan jalan-jalan di gang dapat cair dan akhirnya banyak jalan gang kini sudah diperbaiki dengan menggunakan paving blok.

Hari pemilihan telah tiba. Bahkan Pak Lurah, Sekertaris Desa, dan perangkat desa lain menghadiri pemilihan ketua RW 003 periode yang baru. Calon incumbent, alias ketua RW lama menyampaikan pidato kampanyenya. “Delapan tahun saya menjabat ketua RW, kondisi kampung kita AMAN!” ujarnya lantang yang disambut tepuk tangan riuh para ketua RT pendukungnya. Giliran Papa naik panggung. Papa berkata, “Mari sama-sama kita bangun wilayah kita sebaik-baiknya. Mohon bantuannya…” yang disambut tepuk tangan riuh pendukung beliau. Pernyataan standar dan tidak menjanjikan apa-apa memang. Rasanya mereka semua yang bertepuk tangan hanya ingin melampiaskan kekesalan pada ketua RW lama. Setelah kotak suara penuh dan dihitung, maka Papa memenangkan pemilihan dengan jumlah suara yang berbeda tipis dengan pesaingnya. Satu persatu ketua RT dan Lurah menyalami beliau. Saat menyalami ketua RW yang lama, ketua RW itu berkata “Stempel dan lain-lain ada di rumah. Ambil saja…” namun Papa membalas tegas, “Tolong diantar ke rumah ya! Itu milik warga.” Perkataan Papa disambut senyum kesal mantan Ketua RW itu.

Begitulah, akhirnya Papa sekarang menjadi ketua RW. Mudah-mudahan kontribusi Papa terhadap warga sekitar bisa dilakukan sebaik-baiknya, termasuk harus siap menghadapi keluhan masyarakat. Saya iseng berkata, “Lihat aja Pah! Tahun ajaran baru pasti diserbu anak-anak yang lagi MOS!”. “Hah? Emang kenapa?” tanya Papa. “Loh! Emang gak ingat ya? Dulu kan pernah minta stempel RW malam-malam di atas telor asin gara-gara tugas dari kakak kelas! Hahaha!” kata saya. Selamat bertugas ya Pa! Semoga tetap menjadi warga teladan, Papa kebanggaan saya, dan kebanggaan masyarakat pula.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s