NEGERI 5 MENARA: Mimpi Tak Harus Terhenti di Pesantren

Posted: February 19, 2012 in Resensi Film/TV
Tags: , , ,

Ketika Amak-nya memaksa Alif untuk melanjutkan SMA ke sebuah pesantren, Alif merasa dunianya terhenti. Impiannya melanjutkan ke SMA umum dan keinginannya meneruskan kuliah ke ITB seakan-akan telah pupus. Setengah rela akhirnya dia mengikuti kemauan Amak-nya yang berkeinginan membantah stigma bahwa pesantren adalah tempat siswa ‘buangan’ atau bermasalah dengan nilai pas-pasan. Di Pesantren Madani, Alif yang masih merasa ragu masuk pesantren, berkenalan dengan lima sahabatnya: Said, Raja, Atang, Dulmajid, dan Baso. Kegemaran mereka yang selalu berkumpul dan berdiskusi tentang apapun di bawah menara mesjid pondok pesantren saat waktu luang membuat mereka menjuluki kelompoknya sebagai sahibul menara. Sejak tahun pertama, mereka bercita-cita pergi merantau ke negara-negara yang memiliki bangunan dan menara yang terkenal di dunia saat dewasa kelak.

Poster Film Negeri 5 Menara

Kehidupan pesantren dijalani enam sahabat itu. Dari mulai berusaha mengikuti peraturan asrama yang ketat, kucing-kucingan dengan senior yang selalu siap menghukum mereka apabila tertangkap basah melanggar peraturan, sampai berkompetisi memenangkan begitu banyak perlombaan di pesantren agar semakin ‘eksis’. Beruntung mereka dibimbing oleh ustad-ustad yang baik serta pimpinan pesantren yang bijaksana, Kiai Rais. Terlebih lagi, metode belajar para guru yang terkadang lain dari biasanya membuat mereka tertarik dan menikmati proses pembelajaran. Setelah sahibul menara kehilangan salah satu anggotanya, barulah Alif memantapkan pilihannya dan batal untuk pergi ke Bandung menyusul Randai, sahabatnya yang masuk ke sekolah umum.

Tak akan pernah mudah menerjemahkan novel ratusan halaman menjadi film berdurasi sekitar dua jam. Itulah sebabnya, saya selalu berpendapat bahwa novel dan film adalah dua karya seni yang berbeda. Sah-sah saja menambah, mengurangi, dan mengubah apa yang ada di novel saat menjadi skenario film tanpa harus kehilangan esensi cerita. Begitu pula dengan film Negeri 5 Menara (N5M) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ahmad Fuadi ini. Tak ingin kehilangan esensi cerita, karakter setiap tokoh dibangun sesuai dengan deskripsi dalam novel. Untunglah, tidak terjadi ketimpangan chemistry antara pemain dewasa dengan para cast remaja pemeran sahibul menara. Tak ada pemain yang berusaha lebih menonjol dari yang lain. Di satu sisi, hal ini bisa menghindarkan film dari karakter ‘lebay’ yang terkesan cari perhatian, tapi di sisi lain, tak mengapa bila ada karakter yang bisa menjadi scene stealer sehingga film ini tak mudah dilupakan. Bahkan karakter Alif remaja (diperankan oleh Gazza Zubizareta) harus berbagi porsi nyaris sama besar dengan teman-temannya yang lain. Padahal seperti kita tahu, karakter Alif yang terinspirasi sendiri dari karakter penulisnya (perhatikan inisial nama mereka yang sama) seharusnya medapat porsi lebih banyak dan lebih diperlihatkan perubahan emosinya. Tetapi mungkin saja ini sesuai dengan penggambaran karakter Alif pada novel yang penurut dan cenderung introvert.

Deretan pemain muda berhasil mengisi film dengan karakter masing-masing. Pemeran dewasa juga tidak hanya menjadi tempelan. Sutradara Affandi Abdul Rahman berhasil mengarahkan aura kebintangan para pemain senior agar tak menenggelamkan aura para pemain remaja. Lama tidak melihat akting Ikang Fawzi, cukup menyegarkan melihatnya berperan menjadi Kiai Rais yang tetap ‘nge-rock’ sebagai pimpinan pesantren walau tak harus dengan bermusik. David Chalik dan Lulu Tobing yang menurut saya terlalu muda untuk memerankan orangtua Alif bermain cukup apik. Untunglah David berhasil menahan diri tak cengegesan seperti perannya sebagai ustad dalam film ‘?’ (Tanda Tanya). Pilihan penulis skenario Salman Aristo dan Rino Sarjono untuk memakai bahasa Minang dalam dialog Alif dan keluarganya saya anggap tepat. Namun lagi-lagi, tidak ada kutipan dialog yang menempel pada otak saya selepas menonton film ini kecuali slogan ‘Man Jadda Wajada’ yang menjadi semboyan film ini. Syukurlah, film ini juga tak terjebak ‘jualan’ pemandangan. Bukit Barisan dan Danau Maninjau cukup menggambarkan keindahan Sumatera Barat tanpa harus berlama-lama dalam durasinya. Walau tak secara eksplisit menyebutkan tahun untuk menjelaskan setting, dari sebuah adegan kita bisa melihat ada spanduk bertuliskan tahun 1988. Saya mengagumi usaha sutradara untuk meyakinkan penonton bahwa properti, suasana jalan, dan jenis kendaraan benar-benar menggambarkan suasana tahun delapan puluhan akhir, nyaris tanpa cela kecuali penampakan menara provider telepon seluler di salah satu adegan (mungkin juga itu adalah menara pemancar TVRI seperti dikisahkan dalam novel).

Sebagai film yang layak ditonton keluarga, adegan haru, lucu, dan komikal dalam film ini mampu menghibur saya. Akan lebih baik lagi saat pementasan seni yang dikomandani para sahibul menara di durasi akhir film ditambahkan narasi yang kuat agar lebih greget dan tak terlupakan. Dilihat dari adegan di akhir film yang ‘meloncat’ ke masa mereka dewasa, sepertinya saya bisa berani bilang bahwa sekuel dari film ini sudah dipersiapkan. Bukan begitu Mas Ahmad Fuadi?😀

Naskah: @windddo

Thanks to:
VIVAnews yang mengadakan acara Screening Advance with Bloggers.
Para teman-teman Vloggers yang hadir.

Vloggers berfoto bersama Penulis N5M Ahmad Fuadi, Ernest Samudera (Said), dan Billy Sandy (Baso)

Comments
  1. Adang says:

    wah udah penasaran nih untuk nonton kisah inspiratiif N5M..
    salma kenal bahagia

    Revolusi Galau

  2. Ca Ya says:

    Wah,,selamat ya🙂
    jadi bisa belajar bkin review pelm dr sini🙂

    • gerbongtiga says:

      Thanks..😀
      Hahahah.. kalau review masih banyak tulisan yang lebih bagus…🙂 yang penting tulisan kita berguna bagi orang buat memutuskan jadi nonton atau tidaknya sebuah film.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s