Mendulang ‘Jempol’ di FB: Narsis Gaya Baru?

Posted: February 17, 2012 in Nyinyir
Tags: , ,

Saat facebook booming sekitar 2-3 tahun lalu, saya melihat orang-orang yang begitu mencandu situs jejaring sosial ini hingga tak bisa lepas untuk membuka akun mereka untuk memperbaharui status ataupun sekedar ‘mengintip’ status orang lain (teman). Saking parahnya, banyak perusahaan mengeluarkan kebijakan untuk mengharamkan kata ‘facebook’ dari jaringan internet mereka, termasuk perusahaan tempat saya bekerja, untuk mencegah karyawannya berselancar di fb saat jam kerja. Itu sebabnya, saya menyingkat facebook dengan FB pada judul artikel saya, karena niscaya postingan saya yang satu ini tidak akan bisa dibuka pada jaringan internet yang memblokir kata kunci facebook. Kalau begitu, nanti orang yang membaca artikel ini akan semakin terbatas bukan? Hehehe.


Oke. Lupakan blokir-memblokir fb dari jejaring internet kantor. Pada akhirnya manusia-manusia penggemar FB akan mendapatkan jalan juga untuk sekadar eksis di dunia maya. Apalagi belakangan ini berselancar internet semakin dimudahkan oleh berbagai basis aplikasi pada ponsel dari mulai kelas low-end hingga kelas smartphone. Kalau dulu orang baru bisa tahu berapa banyak teman kita merespon suatu status yang kita buat dengan menghitung jumlah komentarnya, sekarang sudah ada cara alternatif untuk memberitahukan seseorang teman bahwa kita sudah membaca, melihat, dan merespon status mereka: tombol Like This.

Tombol bergambar ibu jari mengacung ke atas ini, yang populer di Indonesia sebagai tombol ‘Jempol’ diluncurkan oleh pembuat facebook untuk orang-orang yang merasa, ‘Hey, saya membaca status anda, saya ingin merespon dan menyukai pendapat anda, hanya saja saya tak ada komentar apa-apa yang bisa saya berikan!’ Maka dari itu, tombol Jempol itu menjadi alternatif bentuk perhatian baru. Kemudian dari waktu ke waktu, jumlah orang yang memberikan komentar pada suatu status berkurang secara signifikan. Selain mungkin ada faktor kebosanan, saya cukup merasa terganggu oleh notifikasi yang muncul, dan tentu saja, email yang masuk apabila ada orang lain yang memberikan komentar setelah kita. Itulah sebabnya, untuk ‘menandai’ bahwa kita sudah ‘membaca’, ‘memahami’, dan ‘menyetujui’ status anda, maka saya pun ‘suka!’ dan saya tak perlu repot-repot berkomentar, cukup memberikan ‘Jempol’ pada apapun yang teman posting di akunnya, baik itu status, foto, catatan, ataupun ‘link’ yang anda anggap menarik.

Belakangan, fenomena para ‘jempolers’ (salah satu sebutan orang yang memberikan ‘like’ pada suatu postingan) makin merebak. Tingkat popularitas sebuah postingan diukur oleh seberapa banyak orang yang memberikan jempol. Itulah sebabnya, ucapan terimakasih terhadap jempolers seakan sudah lumrah. Kemudian orang-orang merasa kepopuleran dan ke-eksisan tercermin pula dari jumlah jempol yang dia dapat. Apakah ini suatu bentuk narsis gaya baru? Mungkin juga. Bahkan ada yang tak segan-segan melontarkan keinginannya untuk diberikan jempol, atau lebih parah, marah-marah karena jumlah like yang dia dapat tak sebanyak yang dia harapkan. Kalau sudah begitu, bukankah ini semacam ‘penyakit cari perhatian’ akut? Dan menurut saya, itu mirip dengan gejala kenarsisan, sama halnya dengan orang-orang yang memposting foto-foto mereka sendiri. Hehehe..

Berikut adalah beberapa hal mengenai ‘Jempolers’ facebook yang saya perhatikan:

1. Sebagai ajang mencari perhatian. Orang-orang ada yang memberikan ‘like’ semata bukan karena postingannya, melainkan sebenarnya dia naksir si empunya status. Jadi dia akan memberikan jempol pada apapun yang diposting orang yang ditaksir.

2. Pria dan wanita yang berparas ataupun yang bertubuh indah biasanya akan mendapat jempol banyak tak peduli betapa tak penting ataupun bodohnya status yang dia pasang.

3. Penggemar seorang artis ataupun figur publik terkenal tak akan segan-segan me-like semua hal yang diposting oleh artis pujaannya dalam halaman resmi si artis di fb.

4. “I jempol you, you jempol I”. Atau memberikan jempol karena pamrih. Sama seperti twitter yang ‘etika’ nya adalah tak wajib mem-follow balik orang yang telah mem-follow kita, keinginan untuk terlihat eksis dan disukai banyak orang membuat beberapa orang memberikan jempol untuk berharap diberikan jempol kembali tak peduli apapun postingan yang dia buat. Itulah sebabnya, kini banyak orang yang kecewa apabila tak mendapat jempol balik sebanyak yang ia telah berikan pada orang lain.

5. Banyak halaman grup yang mengakomodasi keinginan orang-orang yang ingin dijempol-i statusnya. Seperti misalnya: “GABUNG GRUP INI, MAKA STATUSMU AKAN DI LIKE RIBUAN ORANG!” wow! Fantastis bukan?

Tidak bermaksud untuk terlalu serius untuk hal ini, saya berpendapat, tombol like bisa kita gunakan untuk bersenang-senang di dunia maya. Jadi apapun alasannya, tak ada yang melarang orang memberikan jempol pada orang lain ataupun berharap orang lain memberikan jempol terus menerus pada kita.😀

by: @windddo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s