Scream 4: Era Baru, Rasa Tetap Lama.

Posted: February 5, 2012 in Resensi Film/TV
Tags: , , , ,

Sebenarnya agak aneh kalau saya, yang selama ini mengaku sebagai penggemar film waralaba Scream sejak SMA, belum mereview film ini sampai hampir setahun lamanya sejak rilis April 2011 lalu. Apa sebabnya? mungkin saya tidak tega ‘membantai’ jenis film favorit saya ini apabila saya menulis review filmnya dan menemukan hal-hal yang mengecewakan saya sebagai penggemar. But anyway, dengan cast member yang tetap bertahan sejak tiga film sebelumnya, ditambah Wes Craven yang masih duduk di bangku sutradara, dan tentu saja, Kevin Williamson yang mengambil alih urusan penulisan naskah seperti dua film pertama, Scream 4 termasuk film yang saya tunggu-tunggu untuk ditonton.


Sekadar mengingatkan, pada awal kemunculannya, Scream dipuji karena menghasilkan gambaran horor-kontemporer terbalut budaya pop dengan dialog cerdas dan twist yang tidak terduga. Menurut saya waktu itu (1996) adalah era kebangkitan teknologi bernama telepon seluler atau ponsel, yang berhasil digunakan secara maksimal oleh penulis naskah. Bayangkan, dengan kemudahan jaringan tanpa kabel, seorang psikopat, dalam hal ini pembunuh bertopeng dalam film, bisa dengan mudahnya mempermainkan dan meneror si calon korban lewat telepon sebelum membunuhnya. Lalu setelah tiga film yang telanjur digaungkan dan dipungkaskan sebagai trilogi, masihkah seri ke-empat ini “menikam” seperti pendahulunya setelah limabelas tahun berlalu?

Tiga karakter utama, Sidney, Gale, dan Dewey masih dipertahankan sebagai benang merah peristiwa pembunuhan berantai di kota fiktif Woodsboro saat Sidney masih duduk di bangku SMA. Gale yang sudah menikah dengan Dewey, memilih menetap di Woodsboro mendampingi suaminya yang sekarang menjabat sebagai sherrif. Sidney yang berusaha membebaskan dirinya dari status sebagai korban yang selalu diincar oleh pembunuh, berhasil merampungkan bukunya dan memilih Woodsboro, kota kelahiran sekaligus awal dari tragedi yang menimpanya, sebagai pemberhentian terakhir promo bukunya tersebut. Masalah timbul ketika terjadi lagi pembunuhan bertepatan dengan kedatangan Sidney. Kali ini dua gadis remaja SMA Woodsboro menjadi korban dan si pembunuh menaruh barang bukti kejahatan di mobil sewaan milik Sidney. Keadaan makin pelik ketika si pembunuh mengancam beberapa remaja melalui telepon dan salah satunya adalah Jill, sepupu Sidney. Ketika kemudian Sidney yang tinggal di rumah bibinya sekaligus ibunda Jill mendapat teror dari si pembunuh, mau tidak mau dia kembali berjuang mati-matian untuk melindungi keluarga dan teman-temannya sekaligus menyelamatkan diri dari buruan pembunuh bertopeng yang lihai itu.

Tidak sulit untuk menggiring pecinta film Scream untuk kembali menonton sekuelnya setelah bertahun-tahun. Tapi bagaimana dengan generasi sekarang yang mungkin tidak mengalami era horor-slasher-kontemporer ini? itulah sebabnya penulis cerita berusaha mengembalikan lagi era horor remaja dengan menampilkan sederet bintang muda seperti Emma Roberts, Rory Culkin, dan Hayden Panettiere, mendampingi wajah senior Neve Campbell yang kembali berperan sebagai Sidney Prescott, Courteney Cox yang bermain sebagai jurnalis ambisius Gale Wheaters dan David Arquette sebagai Sherrif Dewey Riley. Tapi entah mengapa, formulasi yang digadang-gadang oleh Kevin Williamson sebagai Era Baru, Peraturan Baru (dalam film horor) terkesan hanya mengopi film pertama. Anak-anak muda yang bukannya ketakutan oleh ancaman pembunuh yang berkeliaran, malah dengan sok-tahu membahas dan saling menuduh siapa pembunuhnya (adegan ini dihilangkan dari film, tapi kamu bisa melihatnya di bonus dalam DVD originalnya) mengingatkan saya pada film pertama. Pakem “semua orang bisa jadi tersangka” juga masih dipakai di film ini, mendadak semua tokoh menjadi mencurigakan dan tak punya alibi. Hasil dari budaya pop yang membuat orang semakin ingin terkenal secara instan menjadi motif sang pembunuh di film ini. Lalu siapakah pelakunya? kamu bisa googling di internet untuk mencari tahu, tapi alangkah lebih baik bila kita mengetahuinya saat menonton filmnya hingga berakhir.

Wes Craven sebagai maestro film horor patut diberikan pujian untuk film ini. Adegan tak terduga serta twist di ending dan kemunculan pembunuh yang tidak bisa ditebak cukup meneror penonton dan membuat ngeri tanpa harus mencipratkan darah secara berlebihan. Aksi karikatural dan dialog dengan bumbu komedi mengimbangi adegan teror. Bintang-bintang muda yang berperan di sini cukup menarik perhatian dan mengimbangi akting para cast-original sejak film pertama. Courteney Cox dan David Arquette yang bertemu di film ini, menikah, dan bercerai pada film ke-empat masih sanggup membangkitkan chemistry duo Gale-Dewey yang berusaha mengungkap identitas pembunuh. Oke, tapi saya tetap berharap Scream tidak lagi dilanjutkan kecuali benar-benar didukung oleh naskah yang bagus dan pemain yang sama.

by: @windddo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s