ARISAN! 2 – Sosialita Versi 2.0

Posted: February 5, 2012 in Resensi Film/TV
Tags: ,

Kisah apa yang coba dikembangkan oleh Nia diNata dalam sekuel film Arisan! setelah delapan tahun berlalu? Arisan! adalah film komedi satir yang menyindir kehidupan sosialita Jakarta yang berlomba-lomba ingin eksis ditengah kemapanan hidup. Apa kabar Meimei, Andien, Sakti, dan Nino? Mereka yang tingkat kehidupan sosialnya sudah semakin mapan dan stabil digambarkan sudah ogah-ogahan menjadi bagian dari kehidupan sosialita Jakarta masa kini. Hanya Andien sajalah karakter yang masih diceritakan eksis dan gaul dengan para sosialita setelah kematian suaminya. Berjuang membesarkan dua anak gadisnya yang beranjak dewasa dan kekhawatirannya akan proses penuaan, Andien masih sempat terus menjaga eksistensinya di kalangan kelas atas.

Sakti dan Nino diceritakan telah putus sebagai pasangan. Sakti menjadi simpanan Oom-oom yang usianya terpaut jauh, sedangkan Nino menggandeng brondong bernama Okta sebagai pacarnya. Sampai saat ini, penonton diajak menengok Meimei di tempat pengasingannya. Teman-temannya heran dengan Meimei yang mengambil “liburan” terlalu lama. Ketika akhirnya Meimei kembali ke Jakarta dan berhasil diajak “gaul” lagi oleh Andien, Meimei merasa gaya hidup itu bukanlah lagi dunianya yang sekarang. Akhirnya dia kembali ke Gili Trawangan dimana di sana sudah menunggu dokter Tom yang selama ini menemaninya di pengasingan. Alasan sesungguhnya Meimei karena dia mengidap penyakit. Sakti dan kawan-kawan belakangan baru mengetahui alasan sesungguhnya, ramai-ramai menyusul Meimei sekaligus berlibur.

Di samping itu, muncul beberapa tokoh misterius seperti dokter Joy yang selalu di dampingi oleh Ara, seorang social climber, dan Oom Gerry, pacar baru Sakti. kaitan antara ketiganya akan terungkap belakangan. Selain itu ada juga tokoh Moli, bartender tempat curhat Meimei yang kata-katanya sangat bijak.

Generasi Eksis

Zaman yang telah berubah menyebabkan manusia-manusianya juga harus meng-upgrade diri menjadi generasi internet. Kebutuhan bersosialisasi bukan lagi mutlak di dunia nyata. Situs jejaring sosial macam Facebook dan Twitter mengakomodir kebutuhan eksis tersebut. Okta yang dikisahkan sebagai brondong, mewakili generasi serba eksis di jejaring sosial. Mungkin ini juga trik Nia DiNata untuk menggaet penonton baru yang sebagian besar adalah generasi muda.

Akting Aida Nurmala masih meyakinkan sebagai sosialita. Cut Mini juga berakting santai dan tenang sesuai dengan karakternya sebagai Meimei. Surya Saputra kurang menonjol di film ini, sedangkan Tora Sudiro, terlihat malas berakting. Deretan cast yang baru malah mencuri perhatian. Rio Dewanto yang berperan sebagai Okta yang centil mampu menyegarkan film dengan celetukan-celetukan khasnya. Sarah Sechan seperti biasa menunjukkan akting “lebay” nya, dan Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Ara sang social climber cukup jadi pemanis saja.

Dibandingkan film pertama, saya melihat banyak elemen film yang rasa-rasanya gatal ingin saya “bantai” hehehe… Seperti misalnya, Cerita terlalu berlama-lama sampai akhirnya teman-teman Meimei mengetahui penyakit yang dideritanya dan ramai-ramai menjenguk ke Gili Trawangan. Aksi mereka yang pergi ‘berlibur’ malah terkesan hanya sebagai tempelan. Alangkah lebih baik apabila mereka mengunjungi Meimei dan memberikan support sekaligus membangun dan menyelesaikan konflik di Gili Trawangan ketimbang penonton disuguhkan adegan-adegan “the gang” yang kesulitan sampai ke tempat Meimei yang menghabiskan banyak durasi.

Teknik pengambilan gambar close-up pada mata terutama pada Meimei, dokter Tom, dan Moli menurut saya agak membosankan. Ini karena para pemainnya tidak memiiki ‘smize’ (meminjam istilah Tyra Banks untuk mata yang tersenyum) sehingga agak membingungkan saya pada jalinan hubungan antara mereka, apakah mereka terlibat cinta segitiga ataukah Meimei mencoba petualangan baru sebagai seorang biseksual. Entahlah. Elemen-elemen jejaring sosial pun tak lepas disisipkan seperti misalnya Okta yang sibuk ngetwit dan Andien yang main detektif-detektifan menyelidiki identitas Ara melalui Facebook. Oke.. itu pun terlalu maksa. Syukurlah, elemen lain dalam film ini seperti pesta para sosialita maupun pakaian yang digunakan, tidak membuat para tokoh-tokohnya menjadi korban fesyen. Pujian untuk stylist film ini. Nia diNata juga berhasil mengambil gambar pemandangan pantai yang indah serta sisi lain Borobudur saat perayaan Waisak. Yah, semoga film-film berkualitas akan semakin banyak menyerbu layar bioskop daripada film asal jadi yang belakangan terus menerus membombardir jaringan bioskop dengan genre horor-nyaris pornonya itu. Semoga.

by: @windddo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s