SANG PENARI – Saat Mencoba Teguh Pada Pilihan Hidup

Posted: December 11, 2011 in Resensi Film/TV
Tags: , , ,

Sudah lama saya tidak meresensi film, sudah lama pula saya tidak menengok blog tercinta milik saya. Penyakit malas yang dipelihara membuat saya jarang menghasilkan tulisan atau mengupdate blog ini. Tapi ya sudahlah, tak perlu dibahas lebih lanjut. Minggu (04/12/2011), saya yang masih ada di Ambon untuk urusan pekerjaan, main ke Ambon Plaza. Melihat film Sang Penari yang tayang di bioskop di Ambon Plaza ini membuat saya tertarik untuk menonton. Maklum, saya yang sudah dua minggu di Ambon belum sempat menonton film yang kabarnya mendapat banyak nominasi Festival Film Indonesia tahun 2011 ini.

Oke, film yang terinspirasi novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini bersetting tahun 1965 di sebuah dusun bernama Dukuh Paruk yang warganya kebanyakan menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian. Dua karakter sentral film ini adalah Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara), dua orang yang bersahabat sejak kecil dan saling jatuh cinta ketika remaja. Stintil yang tinggal dengan kakeknya mencoba menebus dosa orangtuanya yang tanpa sengaja pernah menjual makanan beracun yang mengakibatkan banyak warga dusun tewas. Hasrat menarinya membuatnya berpikir untuk menebus dosa orangtuanya dengan cara menjadi seorang Ronggeng. Warga dusun memercayai bahwa seorang ronggeng yang terpilih oleh arwah leluhur akan mendatangkan kesuburan, rezeki, dan kemakmuran bagi dusun yang sudah lama dilanda kekeringan. Keinginan ini tidak bisa terwujud begitu saja, Tokoh masyarakat di Dusun, Ki Kertaredja (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Dewi Irawan) menolak mentah-mentah Srintil untuk menjadi ronggeng dengan alasan dia bukanlah gadis yang terpilih. Khawatir akan pilihan Srintil menjadi ronggeng dengan konsekuensi harus bersedia ditiduri oleh pria-pria di dusun itu, Rasus menjadi frustasi. Tapi keinginan Srintil yang kuat akhirnya meluluhkan hati Rasus untuk menolongnya, walaupun akhirnya Rasus kecewa dan memilih untuk menjadi tentara. Inilah yang coba dituturkan oleh Ifa Isfansyah sang sutradara film lengkap dengan gambar dan setting yang indah, serta gemulai tarian Srintil sebagai ronggeng. Di sini penonton mungkin akan jijik dan terperangah akan nasib seorang ronggeng yang rela ditiduri oleh pria mana saja bahkan sepengetahuan dan dukungan istrinya dengan membawa “mas kawin” sebanyak-banyaknya.

Ketika melihat setting yang diplot pada tahun 1965, mau tidak mau penonton akan mengaitkannya dengan peristiwa Gerakan 30 September. Sutradara dan penulis skenario memasukkan tokoh Bakar (Lukman Sardi), sebagai “orang berpendidikan” yang belakangan terungkap kalau sebenarnya dia adalah seorang juru kampanye partai yang dianggap terlarang pada masa itu. Setidaknya ada tiga kali Ifa Isfansyah memberikan simbolisasi arit pada gambar film untuk menjelaskan partai yang bertanggung jawab pada kejadian berdarah tanggal 30 September 1965 itu. Pada saat Bakar menghasut warga dusun, sebuah arit terlihat menempel di dinding belakang, begitu pula saat warga dusun melakukan kekerasan, dan ketika akhirnya kekerasan dapat diredam oleh tentara, film memperlihatkan sebuah arit tergeletak tak berdaya di jalan. Di sini Ifa seakan menjelaskan kepada penonton mengenai banyaknya korban salah sasaran yang dicap sebagai simpatisan partai berlambang palu-arit berlatar warna merah itu. Bagaimana mungkin, warga dusun yang buta huruf dan telah dimanipulasi oleh orang seperti Bahar, sadar diri ikut sebagai seorang simpatisan yang akhirnya dihukum di dalam bangsal penyiksaan. Kejadian itulah yang akhirnya memisahkan Srintil dan Rasus lebih jauh lagi. Rasus yang berupaya mencari keberadaan Srintil yang dituding sebagai simpatisan karena menari atas permintaan Bakar, tidak berhasil mengeluarkan Srintil dari penyekapan.

Ifa Isfansyah berhasil menangkap chemistry antara Oka Antara dan Prisia Nasution di film ini. Bagaimana mereka harus menomor-duakan perasaan cinta mereka dan mengalah atas pilihan hidup mereka masing-masing. Gambar indah, setting dan kostum yang meyakinkan, serta gemulai tarian Srintil menjadi nilai plus film ini. Oka berhasil menampilkan karakter rapuh dan frustasi seorang pemuda desa yang bukanlah siapa-siapa, menjadi seorang tentara karena kegigihannya belajar. Tio Pakusadewo dan pendukung lainnya menampilkan totalitasnya dalam berakting. Sayangnya, karakter Srintil yang dipingit sebagai ronggeng mengakibatkan repetisi adegan yang agak membosankan. Kebanyakan adegan hanya berada di seputar kamar ataupun saat menari. Namun sangat menarik melihat pemberontakan demi pemberontakan yang dilakukan Srintil ketika dia tidak mau melakukan apa yang dia anggap melewati batas walau akhirnya harus tunduk pada aturan yang dibuat Nyai Kertaredja. Lebih sayang lagi ketika ending film ini terkesan dipaksakan.Tanpa bermaksud membocorkan akhir cerita, pertanyaan di benak saya adalah: mengapa sepuluh tahun telah terlewati, Srintil dan Rasus tidak juga bisa bersatu? tanpa ada penjelasan yang bisa dimengerti, kredit titel keburu muncul di layar bioskop.

Sang Penari (2011)
Directed by
Ifa Isfansyah

Writing credits
(in alphabetical order)
Salman Aristo
Shanty Harmayn
Ifa Isfansyah

Cast (in credits order)
Prisia Nasution    …     Srintil
Oka Antara    …     Rasus
Slamet Rahardjo    …     Kertaredja
Dewi Irawan    …     Nyai Kertaredja
Lukman Sardi    …     Bakar

@riefwindo

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s