Dear Mantan,

Posted: September 4, 2011 in Lain-lain
Tags:

Dear mantan,
Kau pasti sudah mengenal tabiat saya. Saya yakin itu. Kau sendiri tahu kalau saya tipikal manusia yang tidak pandai mengungkapkan segala sesuatu melalui ucapan. Rangkaian simpul syaraf di otak seakan membuat kalimat tidak pernah bisa sampai keluar dari mulut dengan jelas. Saya lebih suka berpikir dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Paragraf demi paragraf yang seharusnya bisa meluncur deras dalam tuturan kata, lebih suka mengalir melalui jemari.
Ketika hubungan kita berakhir, saya memaksa otak saya berpikir keras mencari alasan dan pembenaran mengapa kita tak berhasil menyatukan dua hati. Berkali-kali akal sehat terselubung kabut keegoisan dan kemarahan. Menuding dirimulah penyebab hilangnya percikan semangat, cinta, dan asmara dalam hubungan kita. Keegoisan pula yang menyebabkan saya mencoba menutupi kesalahan yang telah diperbuat.

Dear Mantan,
Saat kita ada masalah, waktu itu kesalahan saya adalah membiarkan diri, hati dan pikiran teralihkan kepada orang lain. Dan ketika saya menyadari kekeliruan, saya merasa tidak lagi pantas untuk mendampingimu. Tidak lagi pantas untuk berada di sebelahmu. Tidak lagi pantas mendapatkan sayang darimu. Saat itu, saya merasa bukanlah orang yang dahulu pernah bertepuk dada bangga dan berkata lantang: “Hey! Sayalah yang pantas mendampingimu, mencintaimu, dan mendapatkan cintamu! Karena saya adalah manusia yang bisa mempertahankan kesetiaan untukmu.”
Itulah mengapa. Perlahan saya mulai menarik diri. Menghukum diri menjadi manusia inferior terhadapmu. Manusia yang tak pantas diberikan maaf dan mengakibatkan gelombang emosi naik dan turun. Berkali-kali saya menumpahkan amarah… yang sebenarnya saya tujukan pada diri sendiri. Berupaya agar kau melihatku sebagai sosok menyebalkan dan pantas dijauhi. Berharap… suatu ketika kau akan menyerah dan meninggalkan saya.. karena si pengecut ini tak punya keberanian mengakui kesalahan di hadapanmu. Tapi setelah bermacam hal, akhirnya kita berpisah juga.

Dear Mantan,
Mungkin sebenarnya, kesalahan terbesar saya adalah terlalu sombong mengakui bahwa saat itu saya sebenarnya jatuh cinta kepadamu. Pada akhirnya, saya menyesal tak pernah mengungkapkan cinta sebanyak yang pernah saya rasakan sampai kau benar-benar pergi dan meninggalkan saya.
Kini saya adalah pribadi yang menyerah. Hubungan kita laksana sebuah cangkir yang pecah. Walau coba direkatkan, akan selalu ada air yang menetes lewat retakannya. Tapi saya sadar, tak mungkin otak ini melupakan segalanya. Bagaimanapun di hati ini akan selalu ada sebuah ruang untukmu. Bukan untuk dibuka pintunya dan dimasuki kembali, tapi untuk memastikan bahwa kenangan akan dirimu tersimpan di dalamnya.

Comments
  1. Immanuel says:

    kalau untuk saya ……………. masa lalu harus dikubur, dibuang dan dilupakan ……. hei kamu, pemilik blog ….. there’s no use keeping the past. pada akhirnya, kita pasti berbenturan dgn orang lain. ….

    jgn tersinggung ya …. soalnya, kalau kisah cintaku dgn mantanku kan hancur gak karu-karuan … hehehe…

    cepat pulang dari ambon …. kangen ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s