Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 – Pemanasan Untuk Pertempuran Akhir

Posted: November 23, 2010 in Resensi Film/TV
Tags: , ,

Tentu saja para penggemar waralaba laris Harry Potter sudah tak sabar menunggu episode final petualangan penyihir remaja ini. Terus terang, ekspektasi saya terhadap film dari novel ke tujuh sekaligus episode pamungkas kisah penyihir yatim piatu ini agak mengendur setelah saya menonton film ke enam yang rilis tahun 2009 lalu. Walau secara sinematografi, film Harry Potter and the Half-blood Prince bisa dikatakan apik, namun banyak hal dalam novel tidak berhasil dituangkan ke dalam film. Apalagi ada banyak adegan yang sebenarnya tidak terdapat dalam buku.

Oke. Saya tidak ingin menjadi terlalu fanatik yang menginginkan sebuah film yang diangkat dari novel harus setia seratus persen pada novelnya. Novel dan film adalah dua hal berbeda. Tak mungkin menjejalkan naskah lebih dari limaratus halaman ke dalam film berdurasi dua jam saja. Tetapi kalau ada sedikit “pengkhianatan” yang membuat penggemar Harry Potter kecewa, wajar saja kalau ada ketidakpuasan ketika selesai menonton.

Berbagai rumor mengiringi pemutaran perdana film ini. Dari mulai kekecewaan sebagian penggemar ketika tahu David Yates bakal menyutradarai lagi film terakhir, kemudian jadwal rilis yang molor, batalnya penambahan efek 3D, serta rencana rilis film ini dalam dua bagian. Khusus yang terakhir, banyak pihak menuding studio Warner Bros serakah dan hanya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun pihak studio berkilah, banyak detail dalam novel yang tidak bisa dihilangkan begitu saja untuk dimampatkan dalam durasi dua setengah jam film. Film Harry Potter bukanlah film pertama yang menggabungkan masa syuting untuk dua film. Sebut saja, dua episode pamungkas The Lord Of The Rings, Pirates of The Caribbean, dan The Matrix. Penghematan biaya produksi disebut-sebut sebagai alasan pihak studio merampungkan dua film sekaligus dalam satu masa syuting. Lalu apakah Harry Potter and The Deathly Hallows (HPTDH) bisa memuaskan pecinta serial ini apabila filmnya dipecah dalam dua bagian?

Dalam sebuah wawancara, David Yates menjanjikan dalam tiap film akan ada klimaks adegan seru pertempuran. Semua pembaca novel pasti hafal betul, adegan pertempuran seru ada di bagian awal ketika pasukan orde menjemput Harry, serta pertempuran di Hogwarts pada bagian menjelang akhir film. Adegan film dibuka dengan pidato dari Menteri Sihir baru Rufus Scrimgeour yang memberitahukan bahwa dunia sihir dan dunia Muggle (manusia non sihir) dalam bahaya setelah Voldemort (Ralph Fiennes) kembali berkuasa. Keinginan Voldemort membunuh Harry Potter (Daniel Radcliffe) membuatnya melakukan berbagai cara termasuk menghadangnya saat Harry hendak dibawa ke kediaman keluarga Weasley di The Burrows. Harry yang merasa tidak bisa berdiam diri dan khawatir melukai orang-orang terdekatnya memutuskan untuk mencari sendiri Horcrux-horcrux atau belahan jiwa Voldemort yang harus dimusnahkan apabila hendak mengalahkan sang pangeran kegelapan. Dibantu sahabat dekatnya, Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) Harry berkelana dari hutan ke hutan mencoba mencari tahu bagaimana cara memusnahkan salah satu Horcrux yang telah mereka dapat, sekaligus memecahkan teka-teki yang ditinggalkan mendiang Albus Dumbledore, kepala sekolah mereka di Hogwarts, yang mengarahkan mereka pada legenda tiga relikui (hallows) berkekuatan maha dahsyat. Bagian pertama film ini diakhiri saat Voldemort yang meyakini bahwa salah satu relikui tersebut adalah tongkat sihir milik Dumbledore, berhasil membongkar makam dan mendapatkannya.

Ada beberapa adegan yang cukup seru ditonton walau nuansa film sangat gelap dan muram. Pertama, saat penjemputan Harry Potter oleh Orde Phoenix, sangat kocak melihat “kembaran” Harry Potter yang merupakan teman-temannya sendiri yang sedang menyamar. Kejar-kejaran antara para Pelahap Maut dan Harry di awal film juga cukup seru. Yang tidak boleh dilewatkan pula adalah adegan saat Harry menyelinap ke kantor kementrian sihir, serta saat Harry “pulang kampung” ke tempat tinggal orangtuanya. Film ini memang tidak lagi cocok disaksikan oleh anak-anak. Selain nuansa muram dan kesedihan, contohnya saat Hermione terpaksa menghapus ingatan kedua orangtuanya, ada pula adegan Harry bermesraan dengan Ginny (Bonnie Wright) dan dengan Hermione. Untunglah kemuraman itu masih tertolong dengan lelucon dari Ron yang bisa membuat penonton terpingkal. Oya, penggambaran kisah relikui kematian dalam format animasi juga cukup enak untuk ditonton, dan secara keseluruhan, film ini menarik untuk dinikmati walau alurnya cukup lambat saat Harry berkelana. Anggap saja sebagai pemanasan untuk pertempuran akhir yang akan tampil di bagian ke dua film ini yang mudah-mudahan bisa dinikmati pula dalam format tiga dimensi.

-Kaitomo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s