Kereta Rel Listrik Dulu Dan Sekarang

Posted: September 27, 2010 in Kereta Mania

Sebenarnya tidak dulu-dulu sekali sih. Sejak awal tahun 2008 saya mulai menggunakan moda transportasi masal ini untuk menuju tempat kerja yang baru di Jakarta setelah hampir delapan tahun bekerja di Bogor. Pada awalnya saya menggunakan kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi. Dengan harga sekitar dua ribu rupiah, saya naik dari stasiun Bojonggede yang dekat dengan perumahan tempat saya tinggal.Belakangan saya tidak kuat bersaing dengan penumpang lain dalam mencari tempat di gerbong super-panas dan super-sempit itu. Saya tidak mau ketika tiba di kantor, saya terlihat basah kuyup seperti habis mandi keringat. Itulah sebabnya, saya kemudian beralih ke KRL jenis ekspres. Saat itu hanya ada dua pilihan: Naik kelas ekonomi, atau kelas ekspres. Sebenarnya ada satu lagi jenis kereta saat itu: kereta semi-eskpres. Namun hanya berangkat di jam-jam tertentu dan berhenti di stasiun-stasiun tertentu. Dengan harga tiket enam ribu rupiah, sepertinya kereta ini adalah cikal bakal munculnya kereta jenis baru: Kereta ekonomi-AC.

Nah, selama hampir tiga tahun menjadi seorang anggota roker(rombongan kereta) atau bahasa kerennya adalah commuter, saya melihat ada beberapa perubahan signifikan antara saat dulu saya pertama kali menggunakan kereta dengan yang terjadi sekarang ini.

1. Bertambahnya Pengguna

 

Sempitnya dalam gerbong kereta ekspres

 

Sebagai penumpang yang naik Pakuan Eskpres bukan dari stasiun awal pemberangkatan di Bogor, maka saya cukup menerima nasib untuk tidak kebagian tempat duduk. Sekitar awal saya menggunakan Pakuan ini, saya masih bisa berdiri dengan jarak agak renggang antar penumpang. Belakangan, dengan makin tumbuhnya perumahan di sekitar stasiun, maka mau tidak mau penumpang pun bertambah cukup banyak. Mungkin juga disebabkan oleh daya beli yang cukup tinggi sehingga bagi banyak orang kini tak masalah mengeluarkan uang sebesar sebelas ribu rupiah untuk sekali perjalanan menggunakan kereta pakuan. Sekarang hampir tiap pagi kondisi dalam gerbong tak ada bedanya dengan kereta ekonomi. Sempit dan berdesakan apalagi di awal pekan. Kondisi ini diperparah karena selain stasiun Bojonggede, kini Pakuan ekspres pun berhenti di stasiun Cilebut (sebelum Bojong) untuk mengambil penumpang. Selain itu, saya sering naik di gerbong tiga (yang menjadi nama blog ini), karena alasan tertentu selain kenyamanan karena gerbong yang tidak terlalu padat dan dekat dengan pintu keluar, juga alasan romansa. (percayalah! mengenai hal ini sudah menjadi cerita puluhan halaman yang saya dedikasikan untuk penghuni gerbong tiga)

2. Kereta ekspress bukan lagi sesuatu yang ekklusif

Jangan harapkan lagi mendapatkan gerbong dengan kondisi pendingin udara yang prima dan menyejukkan. Karena gerbong-gerbong bekas kereta jepang itu kini tidak lagi sedingin dulu. Selain karena usia, faktor bertambahnya penumpang juga menambah panas udara. Tidak ada lagi yang namanya saya berganti-ganti memakai pakaian tambahan semacam sweater, kardigan, atau jaket. Dan penumpang wanitanya yang dulu gonta-ganti memakai syal atau pashmina yang cantik, kini berpakaian biasa saja. Kini yang kita bayarkan hanyalah untuk kecepatan bukan lagi untuk mendapatkan fasilitas kenyamanan.

3. Munculnya fenomena Kursi lipat

 

Pengguna kursi lipat yang menghalangi penumpang

 

Pada awalnya, beberapa orang yang tidak kebagian tempat duduk memilih untuk menggelar koran dan duduk di lantai gerbong. Perilaku seperti ini sebenarnya tidak terpuji, tetapi kemudian diikuti dengan munculnya pengguna kursi lipat (Kuli) yang menggantikan peran koceng (koran seceng alias seribu perak). Pengguna ini terus bertambah disebabkan karena beberapa orang merasa berhak melakukannya karena tidak mendapatkan tempat duduk. Kemudian penyalahgunaan kursi yang seharusnya lebih tepat digunakan untuk memancing ini semakin menjadi terutama saat-saat jam sibuk kebanyakan orang pergi atau pulang dari kantor. Akibatnya hak-hak orang lain yang berdiri terabaikan dan menyusahkan orang ketika hendak naik ataupun turun karena pengguna kuli berada di dekat pintu. Sekarang muncul stiker larangan penggunaan kuli di setiap gerbong. Walau masih banyak yang mengabaikan, tetapi sepertinya kesadaran untuk tidak membuka kuli saat kereta penuh sudah mulai meningkat.

4. KRL kelas ekonomi-AC

Menggunakan gerbong seperti ekspress namun berhenti di setiap stasiun seperti layaknya kelas ekonomi. Itulah mengapa harga tiket yang dikenakan lebih mahal dari kelas ekonomi. Sejak diperkenalkan bulan Februari 2008, peminat kereta ini semakin bertambah. Itulah sebabnya jadwal keberangkatan kereta ini diperbanyak pada saat jam sibuk pulang kantor. Tetapi, sekarang ini kondisinya sudah tidak terlalu nyaman. Banyak orang yang seharusnya naik kereta ekonomi dan memegang karcis kelas ekonomi seringkali memaksa masuk kereta ini akibat dari seringnya jadwal KRL ekonomi yang dibatalkan dan pemeriksaan karcis yang longgar. Akibatnya kereta jenis ini seringkali diserbu oleh penumpang kelas ekonomi yang tidak terangkut. Kesimpulannya, nyaris tak ada bedanya dengak KRL ekonomi.

5. Jadwal kereta makin sering terlambat.

Saya sering mengungkapkan teori relativitas berlaku pada jadwal perjalanan kereta. Semakin siang semakin besar berpotensi terjadi gangguan. Belakangan ini gangguan semakin menjadi-jadi. Dulu, Pakuan ekspress yang saya gunakan di pagi hari dengan jadwal keberangkatan pukul 06.51 bisa tiba di stasiun kota jam 7.45. Sekarang? makin sering terlambat dikarenakan kereta yang melulu ditahan saat masuk stasiun Manggarai, Gambir, bahkan stasiun Kota, sehingga rata-rata setiap hari kereta tiba jam delapan lewat lima menit. Selain itu, kondisi kereta ekonomi yang sudah tua menyebabkan seringnya batal keberangkatan akibat mesin kereta yang ngadat ataupun mogok di tengah perjalanan.

6. Gerbong khusus Wanita

Ketika saya hampir sebulan bertugas di Ambon dan Ternate, saya sebenarnya tahu bahwa diberlakukan gerbong khusus wanita yaitu terletak di gerbong paling depan dan belakang. Kemudian saya sempat salah masuk ketika awal bekerja kembali menggunakan kereta (he-he-he). Saya tidak mengerti efektifitas gerbong ini yang jelas-jelas bisa menuai protes dari kaum feminisme pendukung kesetaraan gender, karena hal ini seperti kembali ke zaman dahulu saat hak kaum wanita dibatasi, dan bukan melindungi mereka dari gangguan pelecehan seksual. Entahlah, tapi kalau memang alasannya demi kenyamanan, maka tak ada salahnya gerbong khusus ini tetap dipertahankan. Tetapi yang membuat saya ingin tertawa adalah, penggunaan ikon yang sepertinya kurang tepat. Saya menganggap gerbong khusus wanita ini adalah gerbong khusus lesbian. Jangan marah dulu, sebab ikon yang ada seolah mengatakan bahwa:

a. Khusus single mother with child

b. Kaum pria dilarang masuk

c. Pasangan heteroseksual dilarang masuk.

Logo Gerbong khusus wanita

Mudah-mudahan ke depannya tidak hanya gerbong khusus wanita yang diberlakukan, tetapi demi kenyamanan, sebaiknya diberlakukan pula gerbong khusus pengguna kursi lipat, khusus pengguna blackberry, dan khusus pencopet.😀

Comments
  1. ichanncep says:

    nice artikel. Jadi kangen bogor T.T .. Dulu tiap hari pasti naik ac eco dr stsasiun pasar minggu jam 7an pagi .. Bogor kota sejuta angkot sejuta cinta dan air mata .

  2. desni says:

    kita sepemikiran soal logo dua wanita hehehe… saya sampe terheran-heran kenapa logonya begitu ( “- -)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s