Hikayat Ponsel

Posted: September 19, 2010 in Lain-lain
Tags: , , , ,

Satu dekade lalu, Handphone atau telepon selular atau telepon genggam, yang selanjutnya saya lebih suka menyebutnya ponsel, masih merupakan barang kebutuhan tersier (masih ingat pelajaran Ekonomi kan?) alias enggak semua orang bisa punya, alias hanya orang-orang yang rezekinya berlebih saja yang bisa memiliki. Bahkan dua-tiga tahun sebelum tahun 2000, hanya kalangan pejabat dan artis saja (selain konglomerat, tentu!) yang ‘diizinkan’ dan pantas memiliki ponsel.

Pada tahun 2000, mulailah mewabah ponsel keluaran yang menyasar anak muda(tajir) dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Lebih murah sedikit, dan desainnya lebih gaul alias tidak kaku seperti om-om pejabat punya, lengkap dengan casing warna-warni centil yang bisa diganti sesuka hati (saat itu saya curiga produsen ponsel mengerti betul kalau ABG sering labil, apalagi urusan gonta-ganti warna sesuai susasana hati). Ponsel yang saat itu paling booming adalah merek Erricson T10s dan Nokia 5110. Maka berlomba-lombalah para orangtua murid membelikan anak-anak mereka ponsel supaya menaikkan gengsi. Untunglah, walau baru lepas dari masa ABG, dan belum melanjutkan kuliah betulan (baru lulus D-1), saya tahun itu sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri. Jadinya tidak merasakan persaingan sengit antar-murid yang saling pamer ponsel di SMA seperti halnya adik saya hehehe.

Pada awalnya saya sama sekali tidak berniat memiliki ponsel karena waktu itu gaji saya masih pas-pasan buat ongkos, makan, dan ke mall sesekali. Cuma satu kejadian di bulan Ramadhan di penghujung tahun 2000 lah yang membuat saya bersemangat memiliki ponsel. Ceritanya saya bertemu dua kawan SMA dan jalan-jalan sambil ngabuburit. Salah satu dari mereka adalah sahabat baik sekaligus saya anggap rival saat di SMA dulu. Saat masuk waktu maghrib, kita menuju sebuah mesjid setelah berbuka ala kadarnya. Nah, ketika shalat itu, mendadak teman saya mengeluarkan sesuatu dari saku celana, “What the F…?” pekik saya dalam hati (mungkin sambil melotot pula) “dia udah punya handphone??”. Saya melihat ponsel miliknya begitu anggun, menggoda, dengan warna biru lautnya, tergeletak pasrah di karpet mesjid, dan layarnya seolah menjadi mata yang mengejek saya waktu itu. Ponsel itu bermerek Ericsson GA628.

Ericsson T10s dengan Casing Centil

Ericsson GA628 yang 'meledek' saya

1. Nokia 5110

Sejak kejadian di mesjid itu, saya mulai berpikir untuk memiliki sebuah ponsel pula karena dilandasi iri hati. Jangan ditiru ya sifat jelek ini, tapi kalo enggak begitu susah punya barang nanti! (membela diri). Akhirnya, pada satu hari di bulan Februari tahun 2001, setelah bersusah payah mengumpulkan uang dengan cara membawa bekal untuk makan siang dan dari pinjaman, saya bisa juga memiliki ponsel pertama saya: Nokia 5110 warna hitam. Uh! senang sekali dengan ponsel pertama saya. Walaupun kondisi second-hand, tapi masih terlihat bagus. Waktu itu ponsel Nokia 5110 disebut juga ponsel sejuta umat karena banyak sekali yang menggunakannya. Ponsel sudah saya dapatkan dengan harga waktu itu enam ratus ribu rupiah. Namun yang masih jadi kendala adalah mahalnya harga kartu SIM atau nomor perdana. Adik-adik remaja, mau tahu tidak? Saat itu harga yang paling mahal adalah nomor Simpati yang berkisar antara empat ratus ribu sampai enam ratus ribu rupiah. Maka dari itu saya memilih nomor XL yang harga nomor perdananya pun sebenarnya lumayan mahal: 325 ribu rupiah. Untung Papa waktu itu bersedia mengeluarkan sedekah agar anaknya bisa punya nomor ponsel. Hehehe… Selain itu, tidak seperti sekarang, dulu operator sangat sadis dalam hal masa aktif dan tenggang pulsa. Untuk nomor XL saya, waktu itu voucher harga seratus ribu hanya bisa dipakai untuk satu bulan masa aktif dan satu bulan tambahan masa tenggang. Apabila melewati masa aktif, sisa pulsa akan hangus. Hangus saudara-saudara! Lintah darat yang sangat keterlaluan kan? Belum lagi, tarif melakukan panggilan yang gila-gilaan. Sampai empat ribu rupiah per menit! dan belum bisa mengirim pesan teks lintas operator dengan harga per SMS nya tiga ratus lima puluh rupiah.

2. Nokia 3315

Sebenarnya Nokia 5110 sudah sangat memuaskan. Apalagi ketahanan baterainya luar biasa lama. Tapi mulai kuartal pertama tahun 2002, ponsel dengan antena yang mencuat jelas mulai terlihat kuno dan ketinggalan jaman. Itu karena Nokia dan beberapa merek ponsel lain berlomba meluncurkan ponsel model candybar dengan antena yang dibenamkan di dalam ponsel. Yang paling populer saat itu adalah Nokia 3310 dan 3330. Tapi saya tertarik untuk membeli Nokia tipe 3315 yang waktu itu harga barunya sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah. Layar masih monokromatik, keypad enak digunakan, dan baterai tahan lama. Hanya saja ponsel ini lumayan berat bila ditaruh di dalam kantung baju. Belakangan, saya tidak bertahan lama memakai ponsel ini. Saya membeli ponsel baru dan melungsurkannya pada Papa saya, sebelum akhirnya dilungsurkan kembali kepada kakak ipar saya dan akhirnya hilang di teras rumah, diambil seorang pengamen.

3. Nokia 3610


Bosan dengan Nokia 3315 dan memberikannya pada Papa, saya membeli gantinya yaitu Nokia 3610 di awal tahun 2003. Lebih ringan, mungil, dan suaranya lebih keras. Kelemahannya adalah, baterai yang lebih cepat habis dibandingkan 3315, dan lampu layar yang sangat terang sehingga menyilaukan mata dan membuat saya mual. Ponsel ini nasibnya saya lungsurkan pada Papa dan akhirnya dijual untuk membeli ponsel baru.

4. Nokia 3530


Booming ponsel warna di pertengahan tahun 2003 sangat luar biasa. Itu karena merek Ericcson yang di akuisisi oleh Sony hingga berubah nama menjadi Sony Ericsson mengeluarkan tipe-tipe ponsel layar berwarna yang dipersenjatai dengan kamera eksternal. Tak mau kalah, Nokia mengelurakan segambreng tipe ponsel layar berwarna pula dengan harga yang lumayan mahal. Tak lama, untuk kelas middle-end, Nokia meluncurkan seri 3530 yang cukup terjangkau (sekitar 1,5 juta rupiah) yang walau tak dipersenjatai kamera, lumayan bagus untuk gengsi-gengsian, dan bisa menjelajah internet dengan GPRS nya. Jangan bayangkan melihat tampilan peramban (browser) seperti sekarang. Kebanyakan waktu itu GPRS digunakan untuk mengunduh lagu-lagu dan gambar sebagai nada sambung dan wallpaper. Itulah sebabnya, saya tak mau kalah untuk membeli Nokia 3530 di bulan Februari 2004. Sayang, saya bernasib sial. Ponsel ini hanya bisa saya nikmati selama sebulan saja, sebelum dicuri orang saat saya tertidur menunggui Mama di rumah sakit.

5. Alcatel OT332


Mungkin karena trauma setelah kehilangan ponsel layar warna pertama saya, maka mulai saat itu saya berhenti memakai merek Nokia. Lagipula, kondisi keuangan yang cekak, sedangkan saya butuh ponsel pengganti, pada bulan Maret 2004 setelah Nokia 3530 saya hilang, saya memilih untuk membeli merek kurang terkenal dan tipe yang murah: Alcatel OT332. Sebenarnya ponsel ini cukup bagus walau layarnya kecil. Tapi yang saya suka dari ponsel ini adalah fasilitasnya mengirim pesan teks yang waktu pengirimannya bisa saya atur. Waktu itu saya gunakan untuk mengirimkan pesan ucapan selamat ulang tahun pada teman tepat tengah malam, padahal saya sendiri sedang tertidur pulas, hehehe. Ponsel ini dipakai oleh mama sebelum akhirnya dijual untuk mendapatkan ponsel pengganti.

6. Motorola Rokr e398


Sekitar awal tahun 2005, sedang trend mengunduh dan mendengarkan musik melalui ponsel. Apalagi bila ditambah dengan memori internal sehingga media menyimpan file musik dan gambar menjadi lebih luas. Itulah mengapa pada bulan Maret 2005 saya beralih pada Motorola E398 yang memang ponsel dengan pemutar musik yang mumpuni. Sayangnya, kapasitas memori yang kurang luas membuat saya tidak leluasa membenamkan lagu banyak-banyak. Ponsel ini bertahan saya pakai sampai dua tahun, dan ponsel ini masih dipakai Papa saya sampai sekarang.

7. Sony Ericcson W330i


Bosan dengan Motorola yang akhirnya saya serahkan pada Papa, saya membeli gantinya yang benar-benar dikhususkan untuk penikmat musik: Sony Ericcson Seri Walkman w330i. Saya membelinya pada medio awal tahun 2007, sekaligus ponsel pertama saya yang berbentuk cangkang kerang. Ponsel ini masih saya pakai sampai sekarang walau tidak lagi saya gunakan untuk mendengarkan musik. Mungkin ini adalah ponsel terlama yang saya pakai dan menemani hari-hari saya dalam perjalan kereta saat berangkat dan pulang kerja. Alasan saya masih mempertahankannya karena ponsel ini menyimpan kenangan sentimentil yang cukup lebay, hahaha.

8. Smart ZTE X178


Gara-gara harga yang murah, yaitu sekitar seratus ribu-an dan jumlah pulsa sesuai dengan harga jual alias ponselnya gratis, saya membeli ponsel CDMA pertama saya yang dibundel dengan paket nomor Smart. Saya membelinya saat menjelang lebaran tahun 2008 lalu. Nasib ponsel ini saya jual pada teman.

9. Smart Haier D1200


Kebutuhan akan koneksi internet di rumah dalam pekerjaan, saya memutuskan untuk membeli ponsel modem CDMA smart pada bulan Februari 2009. Walaupun koneksinya tidak secepat 3G, fasilitas internetnya lumayan murah untuk pegawai bergaji tak terlalu tinggi macam saya. Ponsel ini masih saya pakai sampai sekarang. Belakangan hanya digunakan untuk menelepon saja.

10. Samsung U900 Soul


Modem 3.5G, pemutar musik, dan desainnya yang cantik, membuat saya menjatuhkan pilihan pada ponsel keluran vendor asal Korea: Samsung U900 Soul. Inilah ponsel berbentuk slider pertama saya. Saya beli dengan harga dua juta rupiah setelah sebelumnya ponsel ini berharga sekitar lima juta-an. Ponsel ini pula yang menggantikan Sony-ericcson walkman saya untuk memutar lagu sepanjang perjalanan kerja sejak bulan Desember 2009. Ponsel ini sekarang sedang bermasalah, walaupun untuk dipakai sebagai modem masih sangat bagus.

11. HaPe Esia Connect


Tidak punya nomor ponsel lokal menyulitkan saya untuk menghubungi dan dihubungi orang lain dengan tarif murah. Maka dari itu saya membeli ponsel Esia Connect pada bulan Juni 2010 lalu. Ponsel ini masih saya pakai walau lebih banyak dimatikan karena seringkali terganggu oleh panggilan telepon palsu yang ternyata cuap-cuap iklan yang sangat berisik.

12. Samsung Champ.


Saya selalu menginginkan ponsel dengan model layar sentuh. Itulah sebabnya, saya memilih ponsel Samsung Champ ini dengan pertimbangan bujet pas-pasan. Saya beli bulan september ini sebelum lebaran dengan harga di bawah satu juta rupiah. Suara yang diperdengarkan ketika mendengarkan musik lebih bagus daripada Samsung U900 Soul. Itulah mengapa sekarang ponsel ini menggantikan ‘kakak’nya memutar musik dan browsing.

Nah, itulah catatan memori yang ada di otak saya mengenai ponsel-ponsel yang pernah saya pergunakan. Entah mengapa, sampai saat ini saya belum tertarik untuk menggunakan Blackberry. Itulah mengapa ponsel pintar itu tidak termasuk dalam daftar yang saya keluarkan. Semakin orang menganjurkan saya untuk menggunakan Blackberry, maka saya semakin berkukuh untuk tidak membelinya. Hehehe. Ada yang mau membelikan?😀

Comments
  1. aya says:

    HEHE…perjalanan panjang ponsel kamu…

  2. az says:

    wah wah………. ketemu penjajal ponsel nie…. wekeke….

  3. Boy Dhe says:

    Ponsel begitu banyak pa ngak susah bawanya bro???
    (tp ortikelmu bagus kok jd tau masa2 perjalanan ponsel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s