Niat Bunuh Diri

Posted: July 18, 2010 in Nyinyir
Tags:

Siapa? Saya? bukan kok! Tapi seorang teman. Cukup mengerikan sih sebenarnya. Dan yang mencetuskan ide bunuh diri adalah dari saya juga. Eit! jangan menghakimi dulu! Tadi malam saya mendapat sms dari seorang kawan. Isinya ‘Gue lagi gak semangat idup nih, enaknya ngapain ya?’

Karena saya masih mengantuk dan kurang konsentrasi, maka saya asal-asalan membalas: ‘Loncat dari gedung tinggi aja’. Rupanya sms balasan itu menginspirasi dia untuk bertanya lebih lanjut ‘hmm.. enaknya bunuh diri yang gak sakit dan gak keliatan seperti bunuh diri bagaimana ya?’

Lalu ide-ide bermunculan di kepala saya dan saya tawarkan kepadanya. Dari mulai menabrakkan motor ke kendaraan, melompat ke tengah rel saat kereta akan melintas, menghadang busway, atau membius diri sendiri dan kemudian mengiris nadi di pergelangan tangan. Tapi itu semua sepertinya akan mendatangkan rasa sakit. Ya sudah! saya akhirnya menyarankan dia bunuh diri di dalam mobil dengan cara menghirup karbon monoksida. Supaya terlihat seperti kecelakaan, sebaiknya dia menjalankan mobilnya di jalan tol hingga akhirnya kehilangan kesadaran.

Saya tidak tahu apakah saran tersebut dia terima atau tidak. Tetapi, dia kembali bertanya. Lalu setelah dia mati, akan kemanakah dia? kehidupan setelah kematian? alam baka? bereinkarnasi? atau tamat begitu saja? Hmm.. sebagai orang yang tidak terlalu religius, saya sebenarnya juga belum punya kapasitas untuk menjawab. Tapi yang membuat saya heran, dengan apa yang dia miliki sekarang sepertinya belum pantas untuknya memiliki niat mengakhiri hidup. Itu baru dari segi materi. Tapi memang ada alasan lain yang terlalu pribadi untuk saya ceritakan di sini. Dan dia sepertinya merasakan tekanan sosial dari masyarakat. Sms berikutnya yang membuat saya tertegun adalah ‘Bagaimana kalau seandainya gue reinkarnasi dan ternyata masih seperti ini?’

Saya jadi teringat ucapan Almarhum guru Biologi saya saat di SMU dulu. Beliau pernah berkata bahwa dia tidak setuju dengan kalimat ‘Kalau berjalan, melihatlah ke bawah. Jangan mendongak ke atas karena kau akan tersandung’ Maksud dari ungkapan itu adalah kira-kira supaya kita selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki karena masih ada yang lebih kurang beruntung dari kita. Tapi beliau tegas-tegas menolak! menurutnya kita harus memandang lurus ke depan. Bila selalu memandang ke atas kita tersandung, maka memandang ke bawah kita terantuk. Tak salah memiliki ambisi untuk mendapatkan yang lebih baik, asalkan kita selalu bersyukur. Memang, kadang saya menerapkan kalimat tersebut dalam kehidupan, tapi lebih banyak saya selalu melihat ‘ke atas’ sehingga selalu merasa kekurangan dan malas bersyukur. Hey! saya bukan orang yang sempurna! Saya masih butuh dukungan keluarga dan sahabat untuk selalu tetap berada di jalur yang tepat.

Apapun penyebabnya, sepertinya kita belum layak untuk menyia-nyiakan nyawa ini. Dalam hidup manusia yang pendek pun, selalu masih ada waktu untuk bercerita tentang segala hal. Dan untuk teman saya itu, saya hanya bisa berkata: ‘Sepertinya ente cuma butuh liburan…’🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s