Kisah Pohon Apel

Posted: June 3, 2010 in Stories

A story by Erwindo Arief

Orangtuaku memberikan aku nama Sandy bukanlah tanpa maksud. Kata mereka, saat aku lahir rambut dan mataku berwarna abu-abu seperti hamparan pasir di pantai. Mama pernah bercerita, kalau kakeknya yang berdarah eropa itu juga saat lahir rambut dan matanya berwarna laksana pasir. mungkin setelah beberapa generasi tersembunyi, gen pembawa karakter tersebut akhirnya muncul pada diriku. Cerita kelahiran kakek Mama. Hanya itulah yang aku ketahui tentang asal-usul Mama. Dia hampir tidak pernah bercerita mengenai keluarganya sehingga kadang aku berpikir sepertinya Mama muncul begitu saja di dunia ini, langsung berwujud sesosok gadis cantik dengan rambutnya yang agak merah, matanya yang coklat terang, kulitnya yang putih bersih, dan senyum menawan yang langsung memikat Papa untuk menikahinya. Kecuali warna rambut, aku mewarisi hampir tiga perempat ciri fisik yang dimiliki Mama yang melengkapi warisan genetik ketampanan Papa yang khas tanah pasundan. Mungkin ada benarnya kalau kebanyakan anak lelaki mengadopsi cetak biru genetik dari ibu ketimbang ayahnya. Kembali lagi soal kakek, ketika liburan pun, aku dan keluarga hanya mengunjungi rumah orangtua Papa, sehingga hanya merekalah yang aku kenal dan aku sebut sebagai kakek dan nenek.

Kami sekeluarga tinggal di kota besar. Pekerjaan Papa sebagai seorang konsultan keuangan dan menangani beberapa perusahaan sekaligus membuatnya jarang berada di rumah. Sepertinya papa berangkat dikala matahari belum lagi terbit, dan pulang setelah matahari sudah lama terbenam. Untunglah, Mama yang merupakan ibu rumah tangga penuh waktu benar-benar mencurahkan kasih sayangnya padaku sehingga aku jarang merasa kesepian. Hubunganku dengan Papa tidak bisa dibilang terlalu dekat, namun beliau bisa memberikan kualitas nyaris sempurna saat melimpahkan kasih sayang di waktu-waktu sempitnya yang sangat berharga. Terlebih lagi, karena aku adalah anak yang istimewa.

Ya! istimewa. Predikat ini aku dapatkan saat aku berumur dua setengah tahun. Ketika itu di suatu hari mama meninggalkan aku di rumah agak lama. Aku yang terbangun dari tidur siang keluar dari box bayi dengan susah payah. Kata mama entah mengapa aku berjalan menuju dapur dan mencoba meraih sebuah kaleng susu yang diletakkan di atas meja. Mungkin karena waktu itu aku haus dan naluri keinginatahuanku sedang tinggi-tingginya, maka begitu melihat kaleng susu yang ukurannya sangat besar (mama selalu membeli susu untuk anak dengan ukuran kaleng terbesar) aku yang memiliki pemikiran sebagai anak super berinisiatif untuk membuat susu sendiri. Pengetahuan mengenai ketinggian dan berat sebuah benda belum lagi sampai diotakku untuk dimengerti. Aku saat itu berusaha meraih kaleng susu yang baru dua hari mama beli. kombinasi antara sedikit keteledoran mama, keingintahuanku, dan meja yang kurang tinggi dan simetris, membuat aku yang berusia dua setengah tahun mampu meraih kaleng susu tersebut. Meraih namun tak dapat menggenggam. Akhirnya kaleng susu itu terguling dan menindih kaki kananku.

Mama bercerita, kaleng susu yang masih berat isinya dan menimpa kaki kananku itu membuat tulang-tulang kakiku hancur. Mama menemukan aku yang menangis hebat tanpa suara -entah sudah berapa lama- kemudian buru-buru membawaku ke rumah sakit. Sudah terlambat, kata dokter. Jaringannya sudah rusak dan aku terpaksa kehilangan sebelah telapak kaki hingga batas pergelangan saat itu. Tapi Hey! aku cukup terhibur saat dokter membuatkan aku kaki palsu dengan pen-pen penyangga yang dilekatkan di sisi-sisinya. Tentu saja aku berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi baruku. Selama setahun kemudian aku kembali belajar berjalan, kadang aku berjalan cukup kuat tanpa menggunakan alat bantuan seperti tongkat. Tapi kadangkala, jika hendak turun hujan kaki ini terasa nyeri sehingga mama tetap merasa khawatir jika aku tidak membawa tongkatku ke sekolah.

Walaupun aku bisa berjalan walaupun sedikit lebih lambat dari yang lain, aku tidak dapat berlari cepat. Itulah sebabnya, ketika aku mulai masuk sekolah, bila tiba pelajaran olah raga dan memerlukan aktifitas fisik yang menuntut kakiku untuk bekerja keras, guru olahraga akan menyuruhku untuk duduk dan beristirahat saja. Aku bersyukur mama dan papa bersikeras tidak memasukkanku ke Sekolah Khusus atau SLB. Bagi mereka, aku se-normal anak-anak lain. Itulah sebabnya rasa percaya diriku tidak menjadi lebih rendah, aku bisa menemukan keasyikan lain saat guru olahraga menyuruhku beristirahat: membaca. ya! membaca. Aku sangat suka buku cerita, kisah-kisah dongeng dan fiksi, serta epik kepahlawanan. Biasanya aku akan terhanyut dan membayangkan kalau diriku menjadi salah satu tokoh utamanya. Dan bila saat malam tiba, tak ada yang lebih indah saat bertutur kisah sebelum tidur selain mama.

“Ceritain lagi Ma, kisah pohon apel itu…” Aku meminta setengah memohon pada Mama saat dia sedang membetulkan posisi selimutku agar menutupi aku yang sedang berbaring di atas ranjang hingga sebatas leher.

Mama tersenyum, “kamu enggak bosan?”
Aku menggeleng.
“Ya udah.. Mama cerita lagi ya? tapi setelah ini kamu harus langsung tidur. Ingat! besok hari pertama kamu masuk sekolah, mama enggak mau kamu ngantuk di kelas nanti. Janji?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Mama kemudian ikut berbaring di ranjang, aku bergeser sedikit agar Mama mendapat tempat agak lapang disebelahku, lalu mama mulai bercerita.

Dulu terdapat sebuah pohon apel besar di tengah sebuah lapangan. Pohon apel itu sangat kesepian hingga suatu hari ada seorang anak kecil laki-laki yang rutin bermain di dekat pohon apel tersebut. Anak itu sangat senang bermain di situ, memetik buahnya, memakan apel sepuas hatinya dan jika dia keletihan dia akan tidur di salah satu dahannya yang kokoh. Anak itu sangat sayang kepada pohon apel itu, begitu pula si pohon apel sangat menyayangi anak laki-laki itu. Waktu berlalu. Anak laki-laki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktu setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut.

Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Mari bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Aku bukan lagi anak kecil, aku tidak lagi gemar bermain denganmu,” jawab remaja itu.”Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” remaja itu berkata dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.” Anak remaja itu dengan senang memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.

Masa berlalu… Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira.”Mari bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.”Aku tidak ada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?” Tanya anak itu. “Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah dari dahan-dahan itu.” Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudian merasa sedih karena anak remaja itu tidak kembali lagi setelah itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.”Mari bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak laki-laki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Bisakah kau menolongku?” tanya lelaki itu. “Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembira dan tidak kembali lagi selepas itu.

Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu. “Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu. “Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak memiliki gigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tdak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu. “Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis bahagia.

******

Kisah Seorang Anak Laki-laki dan Pohon Apel. Kisah itu bukan karangan mama, tetapi sudah melegenda. Cerita lama yang tak bosan-bosannya aku minta pada mama untuk menceritakannya sebelum tidur itu benar-benar sudah kuhafal di luar kepala. Tapi tak ada yang bercerita sebagus mama, bahkan ketika Papa yang menceritakannya, aku tidak bisa merasakan hal yang sama ketika mama yang bercerita, entah karena Mama bersuara lembut dan penuh kasih sayang, ataukah dia begitu menghayati kisah itu karena pohon apel itu benar-benar ada? soalnya terkadang aku melihat mama menerawang saat berkisah, seolah-olah kalau aku bertanya padanya bagaimana rupa pohon itu, maka mama akan sangat bisa menjelaskan setiap detil bagian yang ada.

“Kenapa kita enggak punya pohon apel saja ma?” Aku bertanya suatu hari.
“Rumah kita halamannya sempit, sayang. Lagipula pohon apel tidak cocok dengan udara kota seperti di sini, mereka hanya bisa tumbuh di tempat yang hawanya dingin.”

Aku tidak mengerti penjelasan mama saat itu. Otak seorang anak Sekolah Dasar membuatku berpikiran dan bertanya-tanya, “hey! kenapa enggak tanam pohon apel kecil saja di pot? yang penting kan dia berbuah? atau kalau tidak carilah pohon apel yang bisa hidup di tengah udara kota yang panas.”

Mama tahu pikiranku, lalu untuk menghiburku kemudian dia membuka sebuah rahasia kecil. “Tahu enggak? kakek kamu punya pohon apel besaaaaar.. di halaman rumahnya.”

Aku terperangah, mataku membelalak antusias. dugaanku tepat! mama memang membayangkan dengan jelas sebuah pohon apel di rumah kakek yang tentu saja adalah rumah mama dulu semasa kanak-kanak. Aku tidak percaya mama selama ini tidak pernah memberitahukan hal itu kepadaku, setelah bertahun-tahun dia menceritakan Kisah Seorang Anak Laki-laki dan Pohon Apel itu!

“Benar Ma? kapan kita ke rumah kakek ma?” tanyaku tak sabar dan bersemangat.

Tiba-tiba raut wajah mama berubah murung walau aku lihat dia tetap berusaha tersenyum.

******

Tak ingin kembali melihat mama yang berubah sedih, aku mengubur dalam-dalam keinginan untuk melontarkan pertanyaan yang sama, pertanyaan tentang rumah kakek. Namun hal itu tidak membuat rasa penasaranku hilang. Berbagai upaya telah kulakukan, termasuk membongkar-bongkar arsip-arsip lama dan album-album foto mama. Hasilnya nihil. Tidak ada secuilpun informasi yang bisa kudapatkan mengenai latar belakang keluarga mama, entah karena mama memang tidak menyimpannya, atau mama pandai menyembunyikannya, hanya dua alternatif penjelasan itu yang bisa diterima akalku.

“Mungkin kakekmu rumahnya di Malang…” kata Rhino teman sekelasku. Saat itu aku sedang berada di kelas membaca kisah Boneka Prajurit karya HC Andersen yang karena kekurangan logam saat proses pencetakan membuatnya hanya memiliki sebelah kaki. Bukankah cerita itu sangat cocok denganku? aku kagum dengan keberanian si Prajurit Boneka itu menghadapi segala sesuatu yang menghadangnya. Dan Rhino, murid pindahan sejak kami naik kelas lima yang tubuh besarnya sesuai dengan namanya bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang berarti badak, rupanya saat pelajaran basket tadi, hidungnya mengeluarkan darah karena kepanasan sehingga pak guru menyuruhnya masuk kelas dan beristirahat. Dari sekian banyak bangku dalam kelas dia malah memilih duduk disebelahku, menelungkupkan wajah sambil memegangi hidung dengan sapu tangan birunya yang berbercak darah. Badannya yang berkeringat dan “bau matahari” membuatku sedikit terganggu, namun ketika kisah prajurit boneka sampai pada bagian dimana dia terbakar di perapian, setidaknya bisa membuatku membayangkan bagaimana baunya.

“Malang?” tanyaku. Aku tahu kalau ada kota beranama Malang di daerah Jawa Timur dari buku pelajaran IPS.

Rhino mengangguk. “Tahu kan Apel Malang? ya berarti asal buah itu dari Malang! mungkin Mama kamu dulu pernah tinggal di sana…”

Aku terkejut. Mengapa hal itu tidak pernah terpikirkan olehku? padahal aku sudah tahu yang namanya apel malang. Dan sangat mungkin -walau daerah lain juga ada yang merupakan sentra penghasil apel- keluarga mama berasal dari kota itu. Tapi entahlah… kalau benar mama berasal dari kota Malang, mengapa dia sama sekali tidak memiliki logat khas jawa timur saat berbicara. Mungkinkah karena mama dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak membiasakan diri memakai bahasa daerah? ataukah karena mama telah lama tinggal di kota dan telah lupa sama sekali bagaimana bertutur dalam bahasa daerah? atau malah mama ternyata memang bukan berasal dari kota tersebut? Kalau memang kemungkinan ketiga yang terjadi, artinya aku kembali kepada kondisi tidak tahu sama sekali akan asal-usul mama.

Selama beberapa minggu berikutnya, setiap ada kesempatan, aku akan memancing-mancing reaksi mama saat aku menyebut-nyebut kota Malang ataupun apel malang. Tapi sepertinya mama tak terpengaruh.

“Apel malang paling terkenal ya ma?” aku bertanya sambil mengunyah potongan apel malang yang kebetulan mama beli hari itu.
Mama yang sedang membereskan piring di atas meja cuma mengangguk.
“Kata Rhino, di Malang itu dingin ya Ma? kapan ya kita bisa main ke sana?”
“Ajak aja papa… siapa tahu kalau liburan kita bisa ke sana…” Mama menjawab tanpa ada sedikitpun keganjilan dalam nada suaranya.
Aku tak punya ide lain.

Di kesempatan lain, aku kembali memancing mama.
“Kalau ada study-tour ke Malang akhir tahun ajaran, mama boleh ijinin Sandy pergi?”
“Lihat aja nanti…” jawab mama datar.
“Kenapa ma? emang di sana enggak enak ya? apa enggak begitu menyenangkan?”
“Mama kurang tahu…” jawab mama diplomatis.

Aku belum putus asa.
“Kalau dari Malang ke kota ini kira-kira perjalanannya berapa lama ma? tahu enggak?”
“Mama enggak tahu, belum pernah nyoba…”
Aku benar-benar hilang akal.
“Apel malang itu paling terkenal kan ma?” tanyaku tak sabar.
“Kamu kan udah pernah tanya itu sebelumnya San…”

Aku menghela nafas panjang tanda menyerah.

Obsesiku terhadap apel, kota malang, dan usaha menyingkap latar belakang keluarga mama, telah merasukiku berhari-hari. Satu titik terang aku dapatkan saat membaca sebuah buku lama di perpustakaan sekolah. Di buku tipis tentang budidaya apel itu tertulis hal ini:

“Apel Malang tepatnya Apel Batu bukanlah hasil tanaman asli Kota Batu dan Malang. Orang Batu mengenal tanaman Apel justru karena orang Belanda yang membawanya ke Kota Batu dijaman penjajahan. Selain Kota Batu yang berhawa dingin disukai orang-orang Belanda untuk mendirikan vila, struktur tanah dan udara Kota Batu juga cocok untuk tumbuhnya tanaman Apel.”

“Konon, pohon Apel dari Belanda yang ditanam di Kota Batu memang bisa tumbuh dengan subur, berdaun lebat, dan berbatang kokoh. Seperti di komik dan film-film Eropa, pohon Apel di Eropa tumbuh tinggi besar seperti pohon mangga dan rambutan. Budidaya pohon Apel melalui steik dilakukan sehingga pohon Apel semakin banyak bahkan juga dimiliki oleh penduduk-penduduk lokal.”

Belanda! Eropa! bukankah mama masih memiliki darah keturunan eropa? aku semakin bergairah. Tak hanya perpustakaan, majalah-majalah pertanian milik papa yang dulu sama sekali tak membuat minatku tertarik, kini ikut-ikut menjadi korban pemuasan obsesiku. Aku dengan teliti mencari semua artikel yang berhubungan dengan apel dan tanamannya dari majalah-majalah tersebut. Suatu kali papa keheranan melihat aku yang mendadak tertarik membaca koleksi majalah pertanian miliknya. Aku hanya menjelaskan pada papa kalau sedang membuat tugas dari sekolah. Anehnya, papa yang kuduga kuat tahu pasti latar belakang keluarga mama juga ikut-ikutan tak terpancing dengan segala ke-apel-an dan ke-malang-an diriku berminggu-minggu ini.

“Tahu enggak San? dulu apel-apel di kota batu itu enggak bisa berbuah…” papa memulai kisahnya dengan kalimat bernada misterius dan mata berbinar.
“Loh, kok bisa?” tanyaku.
“Iya! Benar!” Mengetahui pancingannya berhasil, papa bercerita makin bersemangat.
“Dulu, walau pohon apel itu bisa tumbuh subur di dataran tinggi dan hawa dingin perkebunan, pohon-pohon itu seperti kebingungan…”
“Kebingungan?” tanyaku.
“Kebingungan karena pohon-pohon itu sudah terbiasa dengan iklim dengan empat musim… seperti leluhur mereka di eropa.”
“Lalu?”
“Ada seorang kusir di Desa Pesanggerahan. Dia juga memiliki pohon apel. Penasaran mengapa pohonnya tak juga berbuah, dia kesal dan kemudian dengan cemetinya dia merontokkan semua daun-daun yang ada. Ternyata… beberapa minggu kemudian pohon-pohon itu mulai berbunga… seperti sakura… tapi tak bergerombol… dan akhirnya bunga-bunga itu berubah menjadi bakal buah apel. Itulah legendanya mengapa akhirnya buah apel di kota Batu akhirnya berbuah…” papa menutup kisahnya sambil mengangguk-angguk puas.

Tentu ada penjelasan ilmiah dari legenda yang diceritakan papa. Orang yang menyadari bahwa negara kita hanya memiliki dua musim, harus mencari akal bagaimana “mengecoh” pohon-pohon apel itu dan memaksanya berbuah. Maka manusia menggunakan musim buatan. Pertama, ketika daun sudah lebat, maka daun-daun kemudian akan dirontokan (dirempes, istilah Batu) oleh manusia sebagai pengganti musim gugur, setelah itu supaya persemian lebih sempurna, dahan-dahan pohon Apel ditelentangkan dengan seutas tali yang ditarik ke Pohon Induk. Dengan demikian, bunga-bunga akan muncul lebih banyak. Setelah itu waktunya membuat musim panas dengan cara mengapuri pohon Apel dengan gamping atau kapur. Ternyata, musim buatan itu cukup efektif. Hanya memerlukan sekitar enam bulan proses tersebut, pohon Apel bisa dipanen buahnya.

******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s