Perlukah Berubah Demi Menyenangkan Orang Lain?

Posted: April 20, 2010 in Nyinyir
Tags: ,

by: Kaitomo Windo

Pernahkah anda mengalami situasi di mana anda harus berhadapan dengan anggota keluarga yang menyebalkan? tante anda yang cerewet misalnya? atau paman anda yang kalau bercanda seringkali bertingkah dan berkata tidak sopan? Oh! belum lagi sepupu menyebalkan yang sepertinya tidak pernah kehabisan ide untuk membuat anda sengsara di kehidupan sosial anda. Siksaan itu berlanjut ketika anda mulai memasuki bangku sekolah. Teman yang hobi mengadu, selalu curang dalam permainan, bermuka dua, penjilat guru, dan lain sebagainya. Keluar masa sekolah? lebih parah! dunia kerja makin banyak dipenuhi orang-orang yang tidak akan segan-segan menjegal langkah karir anda, membuat anda merasa seperti di neraka ketika berada di kantor, membicarakan anda yang buruk-buruk ketika anda tak ada, bahkan tak akan ragu menikam anda dari belakang apabila ada kesempatan.

Lalu apa yang anda lakukan? marah-marah? menggerutu? menghindar dan bersembunyi di balik batu? percayalah! tindakan-tindakan demikian tidak akan banyak membantu karena hampir di seluruh kehidupan anda, anda akan bertemu orang-orang seperti itu yang, saya lebih suka mengistilahkan, sangat tidak sepaham dengan otak anda. Orang berhati baik memang masih banyak. Dan itu yang harus anda pahami juga. Tidak semua orang di dunia ini memusuhi anda, dan anda pun tak perlu ikut-ikutan memusuhi dunia apabila anda merasa bahwa anda tidak mendapatkan keadilan di muka bumi ini.

Oh! tapi tanyakan lagi kepada diri anda sendiri. Apakah anda tidak pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan kadang-kadang? membicarakan keburukan orang suatu waktu? kelepasan mengadukan sesuatu hal yang sebenarnya diminta secara baik-baik oleh seorang sahabat untuk anda simpan sendiri? Saya pun demikian. Dulu, sejak saya mulai bekerja hingga empat tahun kemudian, emosi saya masih sangat labil. Apabila ada hal-hal yang saya rasa kurang berkenan dengan keinginan saya, maka saya tidak menahan diri untuk melampiaskan kemarahan dan keluh kesah kepada orang-orang rumah. Selama ini orangtua tidak pernah protes dan menerima keluh kesah saya dengan senyuman, akan tetapi belakangan saya pernah menanyakan kepada mereka, apakah kelakuan saya itu menyebalkan? dan mereka menjawab ya! ternyata mereka lelah juga melihat saya seringkali pulang dalam keadaan emosi karena membawa permasalahan kantor ke rumah. Saya juga kurang peduli bahwa sebenarnya orangtua saya pun memiliki masalahnya sendiri. Syukurlah, entah karena kasih sayang orangtua yang begitu besar, atau memang rasa memaklumi mereka sangat tinggi terhadap kelabilan anak muda seperti saya waktu itu, mereka menerimanya dengan sabar. Nah! tugas saya lah sekarang untuk merubah sikap saya sendiri. Perlahan saya mulai bisa mengontrol emosi, tidak pernah lagi menyemburkan kemarahan setiap kali menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya, dan sedapat mungkin menunjukan wajah penuh senyum ketika sampai di rumah dan bertemu orang tua.

Cukup tentang saya. Anda pikir proses perubahan seperti itu sangat mudah? kalau anda berpikir demikan berarti anda salah besar. Saya mulai belajar bahwa saya tidak bisa selalu mengikuti arus. Fleksibilitas dan toleransi memang penting. Menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar anda seperti rekan kerja, keluarga, dan atasan juga sangat penting! tapi saya belajar untuk tidak selalu menjadi objek. Saya berusaha menjadi subjek. Segala keputusan yang saya buat, segala perubahan sikap yang saya tunjukkan, itu semata untuk kebaikan saya sendiri. Seperti misalnya, saya merasa tak harus selalu makan siang bersama dengan kawan-kawan satu kantor. Ada kalanya saya ingin makan sendiri, bebas memilih tempat makan tanpa mengikuti suara orang lain, atau bahkan tidak makan sama sekali. Bukan berarti saya tidak ingin bersama kawan. Hanya saja saya berusaha menyeimbangkan kapan saya harus bersama dengan yang lain dengan kapan saya ingin mengikuti kemauan saya sendiri. Sebab saya yakin, ketika keseimbangan itu tercapai, saya tidak akan mudah senewen atau uring-uringan ketika saatnya makan siang bersama teman-teman jadwalnya menjadi sangat molor misalnya, karena batas toleransi saya menjadi sangat lebar dengan sendirinya. Toh, tidak setiap hari saya harus seperti ini kan?

Saya juga menyadari bahwa tidak semua orang menyukai saya, dan saya tidak pernah repot-repot berusaha membuat orang-orang itu suka kepada saya. Selama mereka tidak membuat masalah, buat saya sebatas hubungan profesional sudah lebih dari cukup. Hey! lagipula saya, dan termasuk anda juga pastinya, punya preferensi rasa suka dan kagum yang berbeda-beda kepada setiap orang kan? Lalu bagaimana apabila kita harus menghadapi orang yang selalu menyulitkan kita? Menjelek-jelekkan kita, membuat kita sebal, bermuka dua dan lain sebagainya? memilih opsi bersembunyi di balik batu saya rasa kurang bijak. Mengkonfrontasi dan membalas kelakuannya hanya akan membuat kita sama rendahnya dengan orang itu. Buat saya, saya selalu memegang prinsip bahwa orang lain tidak bisa menggiring saya untuk membenci atau menyukai seseorang hanya dari cerita-cerita dan perkataan. Saya memiliki penilaian sendiri terhadap orang lain, dan itulah yang saya percayai. Apabila ada orang yang sampai terpengaruh ikut-ikutan membenci seseorang hanya karena hasutan, saya hanya bisa merasa kasihan terhadap orang tersebut. Bagaimana dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan kita di belakang? saya juga yakin, semua orang juga pasti punya penilaian yang berbeda terhadap kita. Sehingga saya percaya, apabila hal-hal buruk yang dibicarakan orang itu tentang kita terbukti tidak benar, akan ada semacam efek bumerang untuk si orang menyebalkan itu.

Perlukah kita berubah demi orang lain? bukan tidak mungkin secara psikis hal-hal buruk yang mereka bicarakan tentang kita, ataupun seseorang yang entah mengapa selalu bersikap seperti siap bertempur di medan perang setiap kali berjumpa dengan kita, akan mempengaruhi kehidupan dan pikiran kita sehari-hari. Adakah yang salah dengan kita? introspeksi memang penting. Apabila memang ada kekurangan dari sikap kita sehari-hari yang kurang berkenan di mata orang lain, ubahlah! tetapi ubahlah dengan tujuan menjadikan kita manusia yang lebih baik! bukan sekadar menyenangkan keinginan segelintir orang!

Anda bisa saja berubah, berubah, dan berubah demi membuat seseorang berbalik menyukai anda. Tapi anda juga harus siap menerima bahwa pada suatu titik, ketika anda telah berubah menjadi persona yang lebih baik, dan telah menampilkan yang terbaik dari diri anda, namun orang tersebut tetap tidak menyukai anda, anda harus menerima kenyataan bahwa bukan anda yang memiliki masalah, tetapi orang tersebutlah yang bermasalah dengan anda! dan tidak ada lagi yang bisa anda perbuat kecuali menerima hal tersebut dan melanjutkan hidup.

-windo for gerbongtiga-

Comments
  1. akuiniobenk says:

    hohohoho tulisanmu ya kak?

    good, positive and pastinya pastinya kasih inspirasi.

    • gerbongtiga says:

      Hohoho.. thanks udah baca.. tulisan ini muncul dari curhatan temen malem2 ampe berbusa di telepon… hahaha

      • akuiniobenk says:

        pernah gak sih ngerasa setelah kita bicara berbusa – busa kayak gitu kita faham sih faham tapi kepala kita mendadak pusing merasa udah kebanyakan bicara. *sindrom ngobrol ngalor ngidul ama temen.

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Tiara Rahayu Azhari, dina mardiana. dina mardiana said: Perlukah Berubah Demi Menyenangkan Orang Lain? http://bit.ly/dhmRHP >>> postingan yang positif dari si kak erwindo🙂 cekidot! […]

  3. gerbongtiga says:

    Itulah sebabnya gue selalu mengingatkan… gak bisa lama-lama mendengarkan orang melalui handphone…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s