Me And My Monthly Ticket

Posted: February 1, 2010 in Kereta Mania
Tags: , ,

Minggu sore tanggal 31 Januari, saya hendak pulang ke rumah menggunakan kereta ekonomi dari stasiun Bogor. Hm… terlintas lagi pikiran saya untuk membeli Kartu Trayek Bulanan atau yang lebih dikenal sebagai Abodemen kereta. Pertimbangannya, saya bisa menghemat tiap harinya. Menghemat? ya! seperti yang saya keluhkan di dua minggu terakhir ini, saya heran, kemana perginya gaji saya bulan ini. Entah saya yang boros (kurasa tidak) ataukah memang penghasilan bulanan saya sudah tertatih-tatih mengikuti laju inflasi tahunan? yang pasti mulai bulan Februari ini saya berniat memangkas pengeluaran harian saya terutama ongkos transportasi menuju kantor. Oh! saya memang patut mempertanyakan kredibilitas perusahaan tempat saya bekerja, mengapa salah satu karyawannya malahan menurunkan level standar hidupnya dari yang setiap harinya menggunakan Pakuan Ekpress menjadi ekonomi AC setelah mengabdi dua tahun.

Oke. Apa itu ekonomi-ac? Ekonomi-AC adalah jenis kereta dengan gerbong sisa kereta Jepang yang memiliki pintu otomatis dan ruangannya memiliki pendingin udara. Berbeda dengan kelas ekonomi yang hampir setiap gerbongnya menggunakan AC alami atau mengandalkan hembusan angin dari tiap jendelannya untuk menyegarkan penumpang yang berjejalan di dalamnya, kelas Ekonomi-AC ini digadang-gadang sebagai pengganti yang lebih manusiawi dibandingkan kereta kelas ekonomi. Berbeda dengan “kakak kelasnya” yaitu kereta ekspres, ekonomi-ac walau menggunakan gerbong yang hampir sama dengan kelas ekspres, berhenti di setiap stasiun kecuali Gambir. Jadwal lah yang membedakan harga karcis ekonomi-ac hingga setengahnya dari harga kelas ekspres.

Oke. Saya agak kesal juga dengan harga yang ditetapkan untuk kartu abodemen ekonomi-ac jurusan Bogor-Jakarta yang untuk menebusnya saya harus merogoh kocek sebesar 185.000 rupiah. Saya pikir ini tidaklah adil, sebab salah satu rekan saya yang menggunakan kereta yang sama saat berangkat kerja dan pulang di malam hari menuju rumahnya di kawasan Pondok Cina, membeli abodemen itu seharga 155.000 rupiah. Lho? bagaimana mungkin diskriminasi harga ini ditetapkan kalau harga karcis yang berlaku untuk jarak dekat maupun terjauh disamaratakan sebesar 5.500 rupiah untuk satu kali perjalanan. Cukuplah saya bertanya-tanya dan memprotes ketidakadilan ini dalam hati dan tetap membelinya. (saya masih agak penasaran dengan harga di Bojong Gede tempat saya biasa turun apakah sama atau tidak dengan jarak dari Bogor).

Oke. Berapa sih sebenarnya yang bisa saya hemat setiap harinya apabila menggunakan Abodemen ekonomi-ac? begini hitung-hitungannya: Pertama saya akan menghemat sebesar 11.000 rupiah di pagi hari karena tidak lagi menggunakan Pakuan Ekspress. Sebagai gantinya, saya mengeluarkan ongkos sebesar 4.900 dari pembagian harga abodemen 185.000 dibagi 19 hari kerja di bulan Februari dan dibagi lagi dua untuk pergi-pulang kantor. Jadi, saya yang biasanya mengeluarkan ongkos kereta sebesar 11.000 (pagi) + 5.500 (sore) = 16.500, menjadi 4.900 x 2 (pagi+sore) = 9.800. Artinya saya menghemat sebesar 16.500-9.800 = 6.700 rupiah dari ongkos kereta. Oh! jangan lupakan pula ongkos naik omprengan setiap harinya dari stasiun menuju kantor sebesar 2.000 x 2 = 4.000 rupiah karena saya tidak harus ikut ke stasiun kota saat menggunakan kereta ekspres dan langsung turun di stasiun Jayakarta untuk jalan kaki ke kantor yang memang jaraknya cukup dekat dibandingkan dari Stasiun Kota. Total penghematan setiap hari adalah 10.700 rupiah dan 10.700 x 19 hari adalah 203.300 rupiah selama bulan Februari.Lumayan? sangat! setidaknya bujet sebanyak itu bisa saya manfaatkan untuk menyalurkan hobi saya nonton di jaringan multisinema pada akhir pekan. Tetapi, menuruti hati nurani yang menjerit-jerit memaksa saya untuk berhemat, hal itu untuk sementara tidak saya lakukan dulu.

Oke. Penghematan bukanlah tanpa konsekuensi. Saya harus menyesuaikan jadwal keberangkatan setiap paginya. Karena Ekonomi-ac datang di stasiun tepat jam setengah tujuh pagi, maka saya tidak lagi bisa bersantai menunggu jam setengah tujuh untuk berangkat kerja dan naik Pakuan jam 6.50, melainkan harus segera berangkat pukul enam pagi dari rumah. Kemudian saya menjadi lebih beresiko dengan jadwal kereta yang tidak pasti. Belum lagi apabila ada jadwal ekonomi yang dibatalkan atau mogok, maka kereta yang saya tumpangi harus bersiap menghadapi limpahan penumpang yang menyebabkan pintu gerbong tak lagi bisa menutup. Kejadian ini sering dialami baik pagi maupun sore hari. Penumpang amat berjejalan dan pendingin udara sama sekali tidak terasa. Itulah sebabnya, saya tidak percaya omongan para petinggi PT KAJ yang mengatakan bahwa kelas ekonomi-ac lebih manusiawi dibandingan kelas ekonomi.

Yah, pada akhirnya saya hanya bisa berharap gangguan kereta di bulan Februari ini bisa minim dan penghasilan saya segera bisa disesuaikan untuk mengembalikan standar hidup saya seperti sedia kala. Entah kapan itu terjadi… :) -windo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s