Cerita Segelas Mimpi

Posted: January 29, 2010 in Stories

Pria muda itu masih ingat saat kelulusan SMA beberapa tahun lalu, di kepalanya banyak angan-angan yang ingin dia wujudkan. Sekumpulan skenario sudah dirancang termasuk ketika akhirnya dia diterima masuk di jurusan arsitektur sebuah universitas. Satu pilihan yang dia tahu akan membuat dia dan kedua orangtuanya bahagia juga bangga. Sepertinya semuanya sangat mudah: masuk jurusan Pendidikan Arsitektur, menyelesaikannya dalam waktu singkat, belajar sebaik-baiknya agar mendapatkan beasiswa, dan setelah lulus langsung melanjutkan ke jenjang S-2.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun ketiga, dia mulai heran. Apa yang dia ingin jalani, langkah-langkah menuju S-2 itu tak hanya menjadi impiannya sendiri. Tak ada yang spesial, begitu pikirnya. Bagaimana tidak? hampir semua kawan satu angkatannya sepertinya memiliki mimpi yang sama dengannya. Tahun-tahun pertama yang tadinya dia lalui dengan penuh semangat, kini perlahan mulai mengendur. Dia bahkan tiba pada sebuah tahap mempertanyakan lagi apa yang selama ini ada di kepalanya. Benarkah semua keinginan itu adalah mimpinya? ataukah hanya keinginan ideal orangtuanya. Batasan kabur antara keinginan dia sesungguhnya dengan harapan orangtuanya yang dia rasakan saat lulus SMA mulai jelas. Tak ada lagi kemauan menggebu untuk menyelesaikan kuliahnya.

Di tahun ketiga itu pula dia menemukan hasratnya yang lain: menulis. Ya memang awalnya dia menulis sesuatu yang masih ada hubungan dengan jalur pendidikan yang dia ambil. Dia mulai menemukan kesenangan mendeskripsikan sebuah objek bangunan yang dia anggap menarik. Ada sebuah perasaan bangga tersendiri apabila hasil karya tulisnya yang dia pajang dalam Buletin Kampus dibaca oleh teman-teman dan mendapat respon berupa komentar dari mereka. Hal itu seperti semacam bahan bakar baginya untuk terus menerus membuat tulisan yang lebih bagus lagi. Perlahan kuliahnya semakin dia abaikan. Seperti tak ada pilihan lain, dia kembali ke kota asalnya. Pelarian? bisa jadi. Mungkin saja dia tidak tahan melihat satu persatu teman seangkatannya lulus terlebih dahulu, atau mungkin sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaan kapan dia akan menyelesaikan kuliahnya. Yang dia butuhkan saat itu adalah menjauh dari kehidupan kampusnya.

Kembali ke rumah orangtua pun bukanlah sesuatu yang menyenangkan baginya. Ayahnya sepertinya mulai gerah dengan anaknya yang belum juga menyelesaikan kuliah. Sesekali beliau mengingatkan betapa dulu dia begitu bangga menceritakan kepada orang-orang bahwa anaknya kelak akan menjadi seorang arsitek terkenal. Tak tahan dengan kekecewaan sang ayah, dia memilih untuk sering-sering meninggalkan rumah, pindah dari satu rumah kawan ke rumah kawannya yang lain. Kawan yang mana saja yang rela menampungnya. Sampai kesempatan itu datang. Kesempatan untuk membuktikan kalau dia memang bisa menulis dan tulisannya layak untuk dibaca orang lain. Menjadi jurnalis. Entah pernah terpikirkan atau tidak olehnya untuk menjadi jurnalis di sebuah media cetak yang sesuai dengan jurusan keilmuan yang dia ambil. Tapi satu hal yang dia tahu, keputusannya menjadi jurnalis tentu akan semakin menyakiti hati sang ayah. Biar kuceritakan dulu mengenai sang ayah. Sepertinya beliau adalah produk doktrinasi masa lalu yang menganggap profesi-profesi tertentu lebih bergengsi dan berkelas dibandingkan dengan profesi lainnya. Sebut saja, dokter, arsitek, atau bahkan pilot. Baginya sangat membanggakan bila anak-anaknya bisa memiliki profesi sesuai standar istimewa yang dia tetapkan. Dan menjadi seorang pewarta media cetak? memikirkannya saja mungkin akan membuat dahi sang ayah berkerut permanen tak akan pernah paham.

Itulah sebabnya. Tanpa sepengetahuan keluarganya, dia diam-diam menjalani serangkaian proses wawancara dan tes untuk masuk dalam dunia kerja itu. Tak banyak berharap mungkin, tapi setidaknya dia sudah mencoba. Dia tahu, kewajiban menyelesaikan kuliah bukanlah semata keinginan ayahnya. Dia juga memiliki tanggung jawab moral untuk menyelesaikannya. Ketika akhirnya dia diterima bekerja, dia merasakan kegairahan baru yang membuatnya semangat: menulis sesuatu yang dia ketahui, dan dia dibayar untuk itu! Perasaan bangga itupun muncul lagi. Dia bisa mengakui sebuah tulisan dalam media cetak itu dengan mencantumkan inisialnya di akhir paragraf penutup. Perasaan yang dulu pernah dia alami, tulisannya dibaca dan diapresiasi orang lain akan membuatnya merasa senang. Kali ini tak hanya teman sekampusnya, tapi orang-orang jauh tidak dia kenal. Apakah itu cukup? tidak. Sebab sesungguhnya yang paling diinginkannya adalah ketika dia menunjukkan tulisan yang telah tercetak itu kepada orang-orang yang dia sayangi terutama keluarganya. Diam-diam dia sedih karena harus menutup rapat-rapat tak bisa memamerkan hasil tulisannya karena satu hal yang sepertinya akan dia dapatkan adalah kekecewaan dari ayahnya. Dan itu akhirnya terbukti. Betapa murkanya sang ayah saat mengetahui anaknya yang diharapkan menjadi seorang arsitek ternama bekerja “hanya” menjadi jurnalis. Percuma mencairkan hati besi ayahnya hanya dengan kata-kata. Walau bagaimanapun ini pilihannya. Dia kini menemukan dunia yang baru, orang-orang baru, dan semangat baru. Bahkan kini dia berpikir serius mengganti tema skripsi yang sudah berbulan-bulan dia siapkan menjadi sesuatu yang ada hubungannya dengan dunianya kerja.
*Terinspirasi dari seorang kawan…🙂

Comments
  1. ayam disko says:

    Jadi ingat aku dulu. Hahahaha

  2. widsky says:

    banyak cowok mengalami seperti ini yah? hehehe

  3. nugi tri says:

    aku tau ini cerita soal siapa… hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s